Permintaan Ayam dan Hintalu Naik, Inflasi Banjarmasin Sentuh 2,9 Persen

Permintaan Ayam dan Hintalu Naik, Inflasi Banjarmasin Sentuh 2,9 Persen

Banjarmasin, Jukung.co.id – Laju inflasi di Banjarmasin tercatat naik menjadi 2,90 persen pada Oktober 2025. Angka ini meningkat 0,40 persen dibandingkan bulan Juli lalu. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya permintaan sejumlah bahan kebutuhan pokok, terutama daging ayam potong dan hintalu ayam, menyusul berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh satuan pendidikan.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin)  Banjarmasin, Faisal Akly, menyebutkan lonjakan permintaan terjadi di hampir semua pasar tradisional.

“Sejak program MBG berjalan, permintaan ayam dan hintalu meningkat tajam. Ini berdampak langsung pada kenaikan harga di pasaran,” ujar Faisal Akly saat ditemui di kantornya, Selasa (07/10/2025).

Menurut data Disperdagin, harga ayam potong kini berada di kisaran Rp 41 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp 32 ribu. Sementara harga hintalu ayam naik dari Rp 31 ribu menjadi Rp 38 ribu per kilogram.  Meski begitu, Faisal Akly memastikan stok bahan pokok masih aman. “Pasokan dari daerah sekitar seperti Tanah Laut dan Banjarbaru masih lancar. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir akan kelangkaan,” tambahnya.Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota Banjarmasin menyiapkan pasar murah di 52 kelurahan, menjual kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Program ini sekaligus menjadi upaya menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi.

Selain itu, pemerintah kota juga telah menandatangani kerjasama dengan Kabupaten Blitar, Jawa Timur, untuk memperkuat pasokan hintalu ayam ke Banjarmasin. “Dengan pasokan yang stabil, kita harap harga bisa kembali normal menjelang akhir tahun,” ujarnya.

Kenaikan harga bahan pokok memang bukan hal baru di Banjarmasin, terutama saat program besar pemerintah berjalan serentak. Namun, tahun ini kenaikannya terbilang moderat karena koordinasi antar daerah dan intervensi pasar berjalan lebih cepat.

Sementara itu, warga seperti Nurul Aini, pedagang nasi kuning di kawasan Sungai Andai, mengaku tetap bertahan meski harga bahan naik. “Hintalu dan ayam naik, tapi kami masih jual dengan harga lawas dulu. Takut pelanggan kabur. Mudah-mudahan harga cepat turun,” ucapnya sambil tersenyum. (EPW/JCI).

Exit mobile version