Banjarmasin, Jukung.co.id – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui program Merdeka Belajar di Banjarmasin masih menghadapi tantangan besar. Selain peningkatan kualitas pembelajaran, pemerintah juga dihadapkan pada persoalan infrastruktur sekolah yang hingga wayahini balum sepenuhnya tertangani.
Data Dinas Pendidikan Banjarmasin mencatat, dari 208 Sekolah Dasar (SD) negeri, sebanyak 54 sekolah mengalami kerusakan berat, sementara puluhan sekolah lainnya memerlukan rehabilitasi ringan. Kondisi tersebut membuat perbaikan sarana pendidikan menjadi salah satu prioritas yang harus dilakukan secara bertahap.
Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Banjarmasin, Faisal Rahman, mengatakan keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama dalam mempercepat rehabilitasi sekolah yang mengalami kerusakan.
Menurutnya, kebijakan efisiensi anggaran membuat pemerintah harus menyusun skala prioritas agar sekolah yang mengalami kerusakan paling mendesak dapat lebih dahulu diperbaiki.
“Efisiensi anggaran memang menjadi tantangan kami. Karena jumlah sekolah yang mengalami kerusakan cukup banyak, tahun ini kami memprioritaskan rehabilitasi total terhadap sekolah-sekolah yang sudah masuk dalam perencanaan sejak tahun 2025,” ujarnya, baisukan Senin (06/07/2026).
Pada tahun 2026, Dinas Pendidikan memfokuskan rehabilitasi total terhadap enam sekolah, yakni SDN Sungai Miai 5, SDN Kelayan Barat 2, SDN Pengambangan 8, SDN Pelambuan 4, SMPN 26, wan SMPN 35.
Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran gasan rehabilitasi ringan wan peninggian halaman sekolah di SDN Pemurus Baru 3, SDN Pemurus Dalam 6, SDN Pekapuran Raya 2, serta SDN Sungai Lulut 3.
“Selain rehabilitasi total, kami juga melakukan perbaikan ringan wan peninggian halaman sekolah agar aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung lebih aman wan nyaman,” ucapnya.
Meski berbagai program rehabilitasi terus berjalan, Faisal Rahman mengakui jumlah sekolah yang membutuhkan perbaikan masih jauh lebih besar dibandingkan kemampuan anggaran pemerintah saban tahunnya. Karena itu, pembenahan infrastruktur pendidikan dilakukan secara bertahap sesuai tingkat kerusakan wan tingkat urgensi.
Ia menegaskan, keberhasilan implementasi Merdeka Belajar kada hanya bergantung pada inovasi guru maupun perubahan metode pembelajaran, tetapi juga harus didukung oleh lingkungan belajar yang aman, nyaman, wan representatif.
“Sekolah yang memiliki ruang kelas layak, bangunan yang aman, serta fasilitas yang memadai akan memberikan kesempatan lebih besar gasan guru untuk berinovasi wan membantu peserta didik belajar secara optimal,” jelasnya.
Pemerintah Kota Banjarmasin pun berkomitmen melanjutkan program rehabilitasi sekolah secara berkelanjutan. Harapannya, sabarataan peserta didik dapat memperoleh hak yang sama gasan belajar di lingkungan pendidikan yang berkualitas, sehingga transformasi pendidikan melalui Merdeka Belajar dapat berjalan lebih maksimal.
Perbaikan infrastruktur sekolah dinilai menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Dengan dukungan fasilitas yang layak, proses belajar mengajar diharapkan semakin efektif dan mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. (EPW/JCI).
