Banjarmasin, Jukung.co.id – Rumah Potong Unggas (RPU) Modern yang berada di kawasan Rumah Potong Hewan (RPH) Basirih, Jalan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan, kembali belum dapat beroperasi sesuai rencana. Fasilitas yang sebelumnya ditargetkan mulai difungsikan pada 2025 itu hingga memasuki awal 2026 masih belum memberikan layanan pemotongan unggas sebagaimana diharapkan.
Padahal, pembangunan RPU modern tersebut telah rampung sejak akhir 2023. Dengan dukungan teknologi modern yang diklaim mampu memotong ribuan ekor unggas per jam, keberadaan fasilitas ini sangat dinantikan, terutama untuk mendukung ketersediaan pangan asal hewan yang aman, sehat, dan higienis di Banjarmasin.
Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp 5 miliar tersebut kini menuai sorotan karena belum memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Di lapangan, bangunan dan mesin RPU tampak belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga terkesan terbengkalai meski secara fisik telah selesai dibangun.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, Yuliansyah Effendi, membenarkan RPU modern Basirih memang belum bisa dioperasikan. Ia menyebut masih ada sejumlah persyaratan teknis serta sarana dan prasarana pendukung yang harus dilengkapi sebelum fasilitas tersebut benar-benar siap beroperasi.
“Masih ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi pada 2026 ini. Salah satunya pembangunan sarana pemisahan limbah hasil pemotongan unggas, seperti rumah bulu dan rumah darah,” ujar Yuliansyah Effendi saat dikonfirmasi, baisukan Rabu (14/01/2026).
Menurutnya, pengelolaan limbah menjadi salah satu faktor krusial dalam operasional RPU modern. Limbah hasil pemotongan unggas tidak dapat dikelola secara sembarangan karena berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan jika tidak ditangani dengan baik.
Untuk itu, DKP3 Banjarmasin berencana menggandeng Perusahaan Umum Daerah Pengelolaan Air Limbah Domestik (Perumda PALD) dalam pengelolaan limbah RPU tersebut. Kerja sama ini dinilai lebih efisien dibandingkan pengelolaan secara mandiri yang membutuhkan anggaran cukup besar.
“Pengelolaan limbah itu tidak sederhana. Kalau dikelola sendiri, biayanya cukup besar. Karena itu, kami berencana bekerja sama dengan Perumda PALD agar pengelolaannya lebih optimal dan sesuai standar,” jelasnya.
Selain persoalan limbah, DKP3 juga masih memerlukan penambahan sarana pendukung lainnya, salah satunya genset. Ketersediaan pasokan listrik yang stabil dinilai sangat penting untuk menjamin kelancaran proses pemotongan unggas yang mengandalkan mesin berteknologi modern.
“Operasional RPU modern membutuhkan listrik yang stabil. Genset harus tersedia untuk mengantisipasi pemadaman listrik mendadak, agar proses pemotongan unggas tidak terganggu,” tambahnya..
Meski kembali mengalami keterlambatan, Yuliansyah Effendi memastikan pihaknya tetap menargetkan RPU modern Basirih dapat mulai beroperasi pada tahun 2026. Ia menegaskan, DKP3 terus berupaya menjaga kondisi bangunan dan mesin agar tetap dalam kondisi baik sambil menunggu seluruh persyaratan terpenuhi.
“Untuk perawatan, kami rutin melakukan pembersihan dan uji coba mesin dua kali dalam sebulan. Insyaallah, tahun ini RPU modern bisa dioperasikan, asalkan seluruh sarana dan prasarana pendukung sudah lengkap,” pungkasnya. (EPW/JCI).













