Napak Tilas di Makam Sultan Suriansyah: Menyatu dengan Sejarah, Menguatkan Spirit Banjarmasin

Napak Tilas di Makam Sultan Suriansyah: Menyatu dengan Sejarah, Menguatkan Spirit Banjarmasin

Banjarmasin, Jukung.co.id – Di bawah rindang pepohonan tuha yang menaungi kawasan Kompleks Makam Sultan Suriansyah, suasana baisukan itu terasa begitu teduh. Hembusan angin bercampur dengan aroma bunga setaman yang ditaburkan para peziarah menciptakan atmosfer penuh makna. Ratusan orang berkumpul, dari pejabat hingga masyarakat, semua larut dalam doa bersama, baisukan Rabu (24/09/2025).

Ziarah ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mengikat kembali warga Banjarmasin dengan jejak sejarah kotanya. Sultan Suriansyah, raja Banjar pertama yang memeluk Islam, menjadi simbol lahirnya peradaban baru yang meneguhkan identitas Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai.

Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin, bersama unsur pimpinan dan Anggota DPRD Banjarmasin serta jajaran Forkopimda dan perangkat daerah, tampak khidmat menundukkan kepala. Tahlil dan doa bergema, mengiringi penaburan bunga di pusara Sultan Suriansyah hingga makam keluarga kerajaan yang terletak di area yang sama.

“Peringatan ini bukan sekadar ritual tahunan, tapi momentum untuk mengenang akar sejarah sekaligus meneguhkan identitas masyarakat Banjar yang menjunjung tinggi nilai sejarah dan spiritual,” ucapnya.

Namun di balik suasana sakral itu, ada pula kegelisahan yang terucap. Alariansyah, Ketua Pengelola Makam, berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi fisik kawasan makam.

“Masih banyak atap yang bocor, lampu penerangan minim, dan keramik yang pecah. Tahun lalu memang ada perbaikan, tapi baru sekitar separuhnya. Kami ingin kawasan ini lebih layak karena ini bukan hanya situs sejarah, tapi juga pusat wisata religi,” ujarnya dengan nada harap.

Bagi masyarakat sekitar, ziarah ini menghadirkan kebanggaan sekaligus pengingat. Banjarmasin tidak hanya berdiri di atas sungai-sungainya, tetapi juga di atas sejarah panjang para leluhur yang pernah berjuang menegakkan identitas.

Kompleks makam ini seolah menjadi ruang pertemuan masa lalu dan masa kini. Di satu sisi, batu nisan tua dengan ukiran khas Banjar menyimpan kisah berabad-abad lalu. Di sisi lain, doa-doa yang dipanjatkan hari ini menjadi bukti bila warisan sejarah itu masih hidup, menyatu dengan denyut kehidupan Banjarmasin modern.

Di Hari Jadi ke-499 Kota Banjarmasin, ziarah ke Makam Sultan Suriansyah menjadi pengingat: sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dijaga dan diwariskan. Seperti bunga setaman yang ditaburkan, harumnya akan terus menyebar, meski kelak daun dan kelopaknya gugur. (EPW/JCI).

Exit mobile version