Warna, Budaya, dan Cerita: Pameran Seni Rupa Langkar Hangatkan Gedung Sultan Suriansyah

Warna, Budaya, dan Cerita: Pameran Seni Rupa Langkar Hangatkan Gedung Sultan Suriansyah

Banjarmasin, Jukung.co.id – Malam Senin (14/09/2025), di Gedung Sultan Suriansyah tidak lagi sekadar hitam pekat.  Lampu-lampu redup yang hangat memantul di permukaan kanvas, menghadirkan dunia lain yang penuh warna. Ada yang menggambarkan riuh pasar terapung, ada yang menuturkan hening gunung Meratus, ada pula yang melayang jauh dalam imaji surealis.

Di tengah ruangan, suara kuas seolah masih terdengar, meski cat sudah lawas mengering. Setiap karya adalah bisikan. Sebuah undangan untuk berhenti sejenak, menatap, lalu membiarkan diri terseret ke dalam cerita yang ditawarkan.

Inilah Pameran Seni Rupa Langkar, bagian dari Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia ke-XXIV tahun 20252 di Kalimantan Selatan. Lebih dari sekadar pameran, Langkar adalah pertemuan: antara perupa dengan perupa, antara daerah dengan daerah, antara warna dengan jiwa-jiwa yang menatapnya.

Ada naturalisme yang jujur, ada dekoratif yang penuh simbol, ada kaligrafi yang memeluk spiritualitas, hingga abstrak yang seperti berbisik dari dunia tak terdefinisi. Semua hadir berdampingan, tanpa sekat, seakan berkata: seni rupa Indonesia terlalu luas untuk dibatasi.

Bagi penonton, berjalan di antara kanvas-kanvas itu seperti berjalan di sebuah pasar ide. Setiap sudut menawarkan aroma berbeda: hangatnya kampung, hiruk pikuk kota, hingga kesunyian yang hanya bisa ditemukan di hati seniman.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon bersama Wakil Gubernur Kalsel, Hasnuryadi Sulaiman serta Wakil Walikota Banjarmasin, Hj Ananda bersama rombongan lainnya dengan ditemani prupa dari berbagai daerah, berkeliling di ruang pameran.

Fadli Zon yang hadir malam itu tidak kuasa menyembunyikan kekagumannya. Berhenti di depan lukisan, ia berkata pelan, “Potensi seni rupa kita luar biasa. Dari naturalis sampai surealis, dari dekoratif hingga abstrak, semuanya hidup di sini.”

Ia berharap, ruang seperti Langkar terus diperbanyak. Ruang yang bukan hanya menampilkan karya, tapi juga menyalakan cahaya: cahaya apresiasi, cahaya pertemuan, dan cahaya harapan agar budaya lokal seperti pasar terapung, kehidupan Dayak Meratus, atau ritual-ritual kecil yang masih hidup di kampung tidak pernah redup di tengah zaman.

Langkar bukan akhir, melainkan jejak pertama. Dari sini, mungkin akan lahir lebih banyak ruang pamer, lebih banyak cerita visual, lebih banyak perupa muda yang berani bicara lewat warna.

Dan malam itu, di Banjarmasin, seni rupa kembali membuktikan dirinya: ia tidak hanya untuk dilihat, tapi juga untuk dirasakan. Ia adalah bahasa universal yang bisa membuat orang dari berbagai latar, daerah, dan usia berhenti sejenak, menatap, dan tersenyum dalam diam. (HNG/JCI).

Exit mobile version