Banjarmasin, Jukung.co.id – Upaya pelestarian seni budaya lokal terus dilakukan Dinas Pendidikan wan Kebudayaan Kalimantan Selatan melalui UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan dengan menggelar Workshop Seni Rupa wan Seni Kriya Topeng Kalimantan Selatan selawas dua hari, mulai 30 April hingga 1 Mei 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Balirungsari Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin, ini menjadi bagian dari implementasi program Management Talenta Nasional yang diluncurkan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Workshop dibuka Kepala UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Suharyanti, S.Sn, wan diikuti puluhan peserta matan kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pegiat seni di Banua.
Dalam pelaksanaannya, workshop menghadirkan tiga narasumber, yakni perupa Hajriansyah, seniman topeng asal Kabupaten Tapin, Dalang Janderi, serta dosen wan aktivis seni bidang kuratorial kawasan Indonesia Timur, I Wayan Sri Yoga Parta.
Kepala UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Suharyanti, S.Sn mengatakan kegiatan tersebut merupakan program perdana Management Talenta Nasional yang dilaksanakan di Kalimantan Selatan dengan fokus pada pengembangan seni rupa wan seni kriya topeng khas Banua.
Menurutnya, seni topeng di Kalimantan Selatan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi wan menjadi salah satu identitas kesenian daerah yang perlu terus diperkenalkan kepada warga.
“Kami memilih topeng khas Tapin karena memiliki ciri khas tersendiri wan berbeda dengan topeng matan daerah lain di Indonesia,” ujarnya, usai membuka kegiatan, jelang tengah hari Kamis (30/04/2026).
Ia menjelaskan, pengangkatan seni kriya topeng Tapin dalam workshop ini diharapkan dapat memperluas pemahaman warga, baik di dalam maupun luar Kalimantan Selatan, jika Banua juga memiliki tradisi seni topeng yang unik wan bernilai budaya tinggi.
Selain sebagai media pelestarian budaya, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi baru pengrajin seni kriya topeng di Kalimantan Selatan.
Pasalnya, wayah ini jumlah pengrajin topeng di daerah dinilai masih sangat minim sehingga perlu adanya regenerasi agar seni tersebut tetap hidup wan berkembang.
“Kami berharap seniman topeng semakin semangat berkarya wan muncul generasi penerus yang dapat menjaga keberlangsungan seni kriya topeng di Kalimantan Selatan,” jelasnya.
Suharyanti juga berharap ke depan topeng kada hanya dipandang sebagai properti terbatas dalam pertunjukan tradisional, tetapi dapat berkembang menjadi media kreatif dalam karya seni modern maupun koreografi pertunjukan.
Dalam workshop ini, peserta diberikan kesempatan mempelajari proses pembuatan topeng, mulai dari penyusunan konsep, teknik dasar pembentukan, pewarnaan, hingga tahap finishing.
Pendekatan kreatif berbasis budaya lokal menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan tersebut agar buhan peserta mampu memahami filosofi sekaligus nilai artistik yang terkandung dalam seni topeng Banua.
Selain memperkuat keterampilan teknis, workshop ini juga menjadi ruang edukasi gasan meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap seni rupa kriya daerah.
Kegiatan yang digelar secara gratis ini terbuka gasan pelajar wan mahasiswa sebagai wadah pengembangan kreativitas sekaligus ruang belajar seni budaya lokal secara langsung matan buhan praktisi wan seniman berpengalaman.
Melalui workshop, Taman Budaya Kalimantan Selatan berharap seni kriya topeng Banua semakin dikenal wan mampu berkembang sebagai bagian penting matan identitas budaya Kalimantan Selatan di tingkat nasional. (HNG/JCI).












