Menyikapi Perbedaan Penetapan Awal Ramadan dengan Bijak dan Mengedepankan Persatuan

Menyikapi Perbedaan Penetapan Awal Ramadan dengan Bijak dan Mengedepankan Persatuan

Banjarmasin, Jukung.co.id – Perbedaan dalam menentukan awal puasa Ramadan kembali menjadi perhatian publik setiap tahunnya. Metode penentuan yang berbeda, baik melalui rukyatul hilal (pengamatan bulan) maupun hisab (perhitungan astronomi), kerap memunculkan perbedaan waktu dimulainya ibadah puasa di tengah masyarakat.

Meski demikian, para tokoh agama dan pemerintah mengimbau masyarakat agar menyikapi perbedaan tersebut secara bijak dan tidak menjadikannya sebagai sumber perpecahan.

Ketua Umum DPP Forum Kerukunan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK), Rachmad Fadillah mengatakan, secara umum, penentuan awal Ramadan di Indonesia dilakukan melalui sidang isbat yang digelar pemerintah dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk ormas Islam, ahli astronomi, dan perwakilan kementerian terkait. Di sisi lain, sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam memiliki metode dan kriteria tersendiri dalam menetapkan awal bulan Hijriah.

Perbedaan ini pada dasarnya terletak pada pendekatan ilmiah dan fiqih yang digunakan. Namun, tujuan seluruh umat Islam tetap sama, yakni menjalankan ibadah puasa sesuai keyakinan dan pedoman yang diyakini benar.

“ Perbedaan penentuan awal Ramadan merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memperkeruh suasana,” ujar Rachmad Fadillah, jelang tengah hari Senin (16/02/2026).

Menurut Rachmad Fadillah,  sikap saling menghormati menjadi kunci utama. Bagi yang memulai puasa lebih dahulu, diharapkan tetap menjaga toleransi terhadap yang belum memulai, begitu pula sebaliknya.

“ Perbedaan tersebut tidak semestinya mempengaruhi hubungan sosial, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat luas,” ucapnya.

Pemerintah melalui Kementerian Agama secara rutin menggelar sidang isbat sebagai forum resmi penetapan awal Ramadan. Forum ini dimaksudkan untuk menjaga kepastian dan ketertiban pelaksanaan ibadah secara nasional.

Sementara itu, tokoh agama berperan penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa perbedaan adalah bagian dari khazanah keilmuan Islam yang harus disikapi dengan kedewasaan.

Rachmad Fadillah menyatakan, Ramadan sejatinya menjadi bulan untuk memperkuat persaudaraan (ukhuwah) dan meningkatkan kualitas ibadah. Perbedaan satu atau dua hari dalam memulai puasa tidak mengurangi nilai ibadah masing-masing umat.

“ Yang terpenting adalah menjaga niat, kekhusyukan, serta semangat kebersamaan dalam menjalankan ibadah di bulan suci, “ tambahnya.

Masyarakat diharapkan tetap fokus pada substansi Ramadan, yakni meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman pandangan.

“ Sikap dewasa dan saling menghormati, perbedaan penetapan awal puasa tidak akan menjadi sumber konflik, melainkan justru menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah bagian dari kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia, “ pungkasnya.

Ramadan tetap menjadi bulan penuh rahmat, apa pun tanggal awalnya. (HNG/JCI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *