Banjarmasin, Jukung.co.id – Usia 58 tahun menjadi tonggak penting bagi Sanggar Budaya Kalimantan Selatan dalam perjalanan panjangnya menjaga denyut seni pertunjukan di Banua. Berdiri sejak 1967 di bawah kepemimpinan almarhum DMA Adjim Arijadi, sanggar ini telah menjadi rumah bagi lahirnya banyak seniman teater yang kini tersebar di berbagai daerah.
Perjalanan panjang tersebut diperingati dalam acara Hari Lahir (Harlah) Sanggar Budaya Kalimantan Selatan yang digelar pada malam Jumat, 25 Desember 2025. Perayaan berlangsung sederhana namun sarat makna, menegaskan kuatnya nilai kekeluargaan dan kesinambungan tradisi yang dijaga hingga kini.
Sejak awal berdiri, Sanggar Budaya Kalimantan Selatan dikenal konsisten menggarap berbagai bentuk teater, baik modern maupun tradisional. Karya-karya yang dipentaskan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang refleksi sosial dan budaya bagi masyarakat.




Dalam peringatan harlah kali ini, sejumlah tradisi khas sanggar kembali dijalankan. Salah satunya adalah prosesi pemberian suapan makanan kepada anggota tertua dan termuda sebagai simbol penghormatan dan regenerasi. Tradisi lain yang tidak kalah menarik adalah saling bertukar kado antaranggota, di mana setiap orang membawa hadiah tanpa mengetahui siapa penerimanya. Momen ini sering menghadirkan kejutan dan kehangatan yang mempererat ikatan antar anggota.
Pimpinan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan, Elly Rahmi Adjim Arijadi, menyampaikan perjalanan panjang sanggar tidak lepas dari berbagai tantangan, namun semangat berkesenian selalu menjadi energi utama untuk bertahan.
“Banyak suka dan duka yang telah kami lewati. Namun kecintaan terhadap seni dan keinginan untuk terus menjaga warisan budaya membuat sanggar ini tetap berdiri hingga hari ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, karya-karya almarhum DMA Adjim Arijadi masih terus hidup dan dipentaskan hingga kini. Salah satunya adalah naskah Seruni Pahlawan Bajau yang kembali dipentaskan dalam Banua Creative Festival 2025 di Gedung Sultan Suriansyah, Banjarmasin, serta pernah tampil di sejumlah daerah seperti Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat.
Menurut Elly Rahmi Adjim Arijadi, Sanggar Budaya Kalimantan Selatan bukan sekedar ruang berkesenian, tetapi juga ruang belajar dan pembentukan karakter bagi generasi muda agar tetap berpijak pada nilai budaya lokal.
“Kami berharap sanggar ini terus menjadi tempat lahirnya seniman-seniman baru yang mampu membawa nama Kalimantan Selatan ke tingkat yang lebih luas,” tuturnya. (GTA/JCI).













