Banjarmasin, Jukung.co.id – Balairung Sari, gedung di kawasan Taman Budaya Kalimantan Selatan, berubah menjadi lautan warna, baisukan Ahad (14/09/2025). Payung-payung kembang hiasan tradisional khas Banua, berjejer rapi. Inilah Lomba Payung Kembang, salah satu agenda paling ditunggu dalam rangkaian Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXIV tahun 2025 Kalimantan Selatan di Banjarmasin yang diselengarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan melalui UPTD Taman Budaya Kalsel dari 14 – 17 September 2025.
Bagi warga Kalsel, payung kembang adalah karya seni, simbol tradisi, sekaligus identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.

Kepala Disdikbud Kalsel Galuh Tantri Narindra, melalui Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel Suharyanti, menyebut lomba ini penting untuk melestarikan kesenian khas daerah. “Payung kembang ini saya perhatikan tidak ada di provinsi lain, sehingga menjadi seni dan budaya khas Kalsel yang harus terus dijaga,” ujarnya.
Ia menambahkan “ Payung kembang ini seni budaya khas Kalsel. Karena itu, kami ingin melestarikannya agar terus dikenal generasi muda,”
Karya payung kembang terbaik akan dipilih sebagai dekorasi utama panggung pembukaan Temu Karya Taman Budaya. Meski tahun ini peserta masih didominasi perajin dari Banjarmasin, ke depan pihaknya menargetkan perajin dari 13 kabupaten/kota di Kalsel bisa ikut berpartisipasi.

Di tengah deretan peserta, ada Rokayah, perempuan asal Kelurahan Pengambangan, Banjarmasin Utara. Tangannya cekatan menyusun ornamen, mengingatkannya pada masa kecil ketika ia membantu mamanya yang kini telah tiada.
“Sejak SD saya sudah belajar membuat payung kembang dari mama. Waktu itu sambil main, sambil belajar. Sekarang mama sudah almarhumah, tapi setiap kali membuat payung, saya merasa dekat kembali dengannya,” tutur Rokayah dengan mata berbinar.
Bagi Rokayah, lomba ini bukan semata kompetisi. Ia adalah ruang untuk merawat kenangan sekaligus menghidupkan kembali tradisi yang nyaris terlupakan. “Lomba seperti ini terakhir digelar sebelum Covid-19. Saya senang sekali bisa ikut lagi. Semoga tiap tahun ada, biar semakin banyak anak muda yang mengenal payung kembang,” ucapnya penuh harap.
Sebanyak 18 perajin ikut serta dalam lomba, disaksikan dewan juri yang berasal dari berbagai kalangan: Ketua Umum Yayasan Lestari Anggrek Kalsel Siti Wasilah, pengamat budaya Kamarul Hidayat, dan Ketua DPW P2LIPI Kalsel Nawang Wijayati.
Hasil terbaik dari lomba ini akan tampil megah sebagai dekorasi panggung utama pembukaan Temu Karya Taman Budaya, membawa seni khas Kalsel ke sorotan nasional.
Suasana lomba di Balairung Sari bukan hanya penuh kicau tawa peserta, tetapi juga aroma nostalgia. Di balik setiap payung kembang, tersimpan cerita tentang keluarga, perjuangan, dan cinta pada tradisi.
Lomba ini bukan sekadar mencari pemenang, melainkan cara Kalimantan Selatan menjaga agar warisan budaya tetap hidup, mekar, dan relevan di tengah arus zaman. Payung kembang yang dulu mungkin hanya dilihat saat pesta rakyat, kini bangkit kembali di panggung budaya Indonesia. (HNG/JCI).












