Miris! Jalan Satu-satunya Menuju SDN Basirih 10 Berlumpur wan Licin

Miris! Jalan Satu-satunya Menuju SDN Basirih 10 Berlumpur wan Licin

Banjarmasin, Jukung.co.id — Kondisi akses jalan menuju SD Negeri Basirih 10 Banjarmasin di Jalan Simpang Sungai Jelai, Kelurahan Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan, kian memprihatinkan wan dikeluhkan warga maupun pihak sekolah.

Jalan yang menjadi satu-satunya akses utama menuju sekolah tersebut dilaporkan dalam kondisi rusak, berlumpur, wan licin, terutama wayah hujan turun. Kondisi itu dinilai mengganggu aktivitas belajar mengajar lantaran saban hari guru maupun peserta didik harus melintasi jalur tersebut menuju sekolah.

Situasi tersebut jua memunculkan kekhawatiran terkait keselamatan peserta didik, terutama kakanakan sekolah dasar yang harus berjalan melewati jalan sempit dengan kondisi tanah yang kada stabil.

Hingga wayahini, belum terlihat adanya penanganan cepat matan pemerintah daerah gasan memperbaiki akses tersebut.

Pihak sekolah berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar proses belajar mengajar dapat berjalan lebih aman wan nyaman.

Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin, Ryan Utama, memadahakan pihaknya telah menyampaikan persoalan akses jalan menuju sekolah tersebut kepada Dinas Pekerjaan Umum wan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin.

Menurut Ryan Utama, kewenangan perbaikan jalan berada di bawah Dinas PUPR sehingga pihaknya hanya dapat melakukan koordinasi wan penyampaian laporan terkait kondisi di lapangan.

“Namun tetap tergantung PUPR kapan melaksanakan. Kami sudah menyampaikan,” ujarnya, jelang tengahari Jumat (15/05/2026).

Ryan Utama menegaskan, Dinas Pendidikan berharap persoalan tersebut dapat segera ditindaklanjuti mengingat akses jalan sangat penting dalam menunjang kegiatan pendidikan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum wan Penataan Ruang Kota Banjarmasin, Chandra Iriandi, menjelaskan persoalan akses menuju SDN Basirih 10 sebenarnya sudah pernah dibahas dalam kunjungan bersama pada tahun sebelumnya.

Wayahtu, ujar Chandra Iriandi, pemerintah melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan terkait kajian kelayakan sekolah tersebut, termasuk mempertimbangkan apakah sekolah tetap dipertahankan di lokasi wayahini atau dipindahkan ke tempat lain yang lebih mudah dijangkau.

“Yang menjadi kendala pembangunan jalan di sana karena akses mobilisasi material sulit, jalannya sempit, wan apabila melalui jalur sungai juga cukup berat,” jelasnya.

Menurut Chandra Iriandi, kondisi geografis kawasan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembangunan infrastruktur.

Selain keterbatasan akses darat, pengangkutan material melalui jalur sungai juga membutuhkan biaya wan tenaga yang lebih besar.

Pemerintah kota, lanjutnya, berharap adanya dukungan warga sekitar berupa hibah lahan agar akses jalan menuju sekolah dapat diperlebar.

Dengan akses yang lebih luas, alat berat maupun kendaraan pengangkut material pembangunan akan lebih mudah masuk ke lokasi.

“Kami akan koordinasikan lagi terkait rencana penanganan ruas jalan ini,” pungkasnya. (EPW/JCI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *