Penuh Makna wan Spiritualitas! “Kuda Cahaya” Hajriansyah Hipnotis Pecinta Seni di Banjarmasin

Penuh Makna wan Spiritualitas! “Kuda Cahaya” Hajriansyah Hipnotis Pecinta Seni di Banjarmasin

Banjarmasin, Jukung.co.id – Puluhan karya seni rupa karya perupa Kalimantan Selatan, Hajriansyah, terpajang dalam pameran bertajuk “Kuda Cahaya” yang digelar di Gedung Wargasari UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Jalan Hasan Basri Banjarmasin Utara.

Pameran yang dibuka langsung Kepala UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Suharyanti, S.Sn, menarik perhatian puluhan pecinta seni wan warga yang datang untuk menikmati karya-karya bernuansa spiritual wan filosofis, jelang kamarian Senin (27/04/2026).

Kada sekedar menjadi ruang pamer visual, “Kuda Cahaya” menghadirkan pengalaman reflektif yang sarat makna religius, spiritualitas, hingga perjalanan batin manusia.

Memasuki ruang pameran, pengunjung disambut deretan karya dengan nuansa kaligrafi, simbolik, wan visual ekspresif yang menghadirkan suasana kontemplatif.

Kepala UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Suharyanti, S.Sn mengaku kagum terhadap konsep wan kekuatan pesan yang dihadirkan dalam pameran tersebut.

Menurutnya, karya-karya Hajriansyah kada hanya memanjakan visual, tetapi juga membawa pengunjung pada perenungan spiritual.

“Begitu masuk ke dalam gedung, kita langsung disuguhi kaligrafi-kaligrafi yang memberi makna zikir. Ini mengingatkan kita agar selalu ingat kepada Tuhan,” ujarnya disela-sela meninjau pameran.

Ia menjelaskan, tema “Kuda Cahaya” memiliki filosofi mendalam. Sosok kuda dimaknai sebagai simbol kekuatan, perjalanan panjang, wan perjuangan buhan perupa di Kalimantan Selatan. Sementara cahaya menjadi metafora harapan sekaligus simbol eksistensi seni rupa lokal agar terus bersinar.

Melalui kegiatan ini, Taman Budaya Kalimantan Selatan juga menegaskan komitmennya untuk terus memberikan ruang berekspresi gasan buhan seniman daerah.

Suharyanti berharap pameran nangkaya ini mampu menjadi pemantik semangat gasan buhan pegiat seni lainnya untuk lebih percaya diri menampilkan karya kepada publik.

“Karya seni kada seharusnya hanya tersimpan. Harus hadir gasan diapresiasi wan menjadi bagian dari perkembangan budaya daerah,” jelasnya.

Ia juga mendorong buhan seniman muda agar memanfaatkan fasilitas ruang pamer yang tersedia di Taman Budaya sebagai sarana pengembangan kreativitas.

Kepala Dinas Perpustakaan wan Kearsipan Banjarmasin, Ikhsan Alhak, turut mengapresiasi pelaksanaan pameran tunggal tersebut.

Menurutnya, pameran seni kada hanya penting sebagai ruang apresiasi budaya, tetapi juga menjadi sarana membangun keberanian generasi muda gasan berkarya.

“Kita berharap kada hanya Hajriansyah yang rutin berpameran, tetapi juga muncul generasi muda yang berani menampilkan karya-karyanya kepada publik,” ujarnya.

Ikhsan Alhak menilai setiap karya dalam pameran ini memberi kebebasan kepada penikmat seni gasan menafsirkan makna sesuai pengalaman wan sudut pandang masing-masing.

Di sisi lain, Hajriansyah menyebut pameran “Kuda Cahaya” merupakan pameran tunggal ketujuh yang ia gelar sejak tahun 2007.

Dalam pameran kali ini, ia memilih figur kuda sebagai tema utama yang menjadi simbol perjalanan hidup, pengalaman, hingga refleksi batin.

“Kuda dalam karya-karya ini kada sekedar visualisasi hewan, tetapi metafora kehidupan. Ia menjadi simbol pengalaman, pikiran, wan perasaan yang saya jalani dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

Selain menghadirkan kritik sosial, Hajriansyah juga memasukkan simbol cahaya sebagai representasi pengetahuan wan hasrat jiwa manusia.

Sebanyak 19 lukisan wan dua karya instalasi ditampilkan dalam pameran ini dengan pendekatan surrealis-ekspresionis yang menghadirkan visual emosional wan melampaui realitas.

Ia sengaja memberikan kebebasan penuh lawan buhan pengunjung gasan menafsirkan setiap karya yang dipamerkan.

“Melalui pameran ini, saya ingin memberi ruang refleksi gasan penonton. Siapa pun yang hadir dapat melihat kembali ke dalam jiwa mereka masing-masing melalui karya-karya ini,” ucapnya.

Hajriansyah dikenal sebagai seniman lukis, penulis, kurator, sekaligus penggiat literasi matan Banjarmasin yang sering mengangkat tema spiritualitas wan tasawuf dalam karya-karyanya.

Melalui “Kuda Cahaya”, ia berharap ekosistem seni rupa di Kalimantan Selatan semakin hidup wan mampu melahirkan gagasan-gagasan baru gasan kemajuan budaya daerah. (HNG/JCI).

Exit mobile version