Banjarmasin, Jukung.co.id – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al Mukhlisin di Jalan Manggis, Komplek Mangga, Banjarmasin Timur, malam Rabu (24/02/2026). Dalam kultum sebelum pelaksanaan sholat tarawih malam ke-8 Ramadan 1447 Hijriah, Ust. H. Chairani Idris, BA menyampaikan pesan mendalam tentang makna puasa dan tarawih dalam membentuk pribadi yang kembali kepada fitrah.
Dalam tausiyahnya, ia menjelaskan puasa merupakan ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT, sedangkan sholat tarawih atau qiyamul lail pada malam Ramadan disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Keduanya, menurutnya, saling melengkapi dalam membangun kualitas keimanan seorang Muslim.
“Siapa yang berpuasa dan mendirikan tarawih atau qiyamul lail pada malamnya, baik berjamaah maupun sendiri-sendiri, didorong oleh rasa keimanan, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya dan kembali seperti bayi yang tanpa dosa,” ujarnya.
Ia menegaskan makna “kembali seperti bayi” bukanlah dalam arti fisik, melainkan maknawi atau spiritual. Artinya, seseorang yang menjalankan puasa dan ibadah malam dengan penuh keimanan akan kembali dalam keadaan suci dari dosa-dosa, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan.
Ust. Chairani Idris kemudian menguraikan sifat-sifat bayi yang patut menjadi refleksi bagi umat Islam setelah menjalani Ramadan. Setidaknya ada empat sifat utama yang perlu diteladani.
Pertama, bayi tidak pernah serakah. Ia menekankan, sifat tamak atau rakus bertentangan dengan esensi puasa yang melatih pengendalian diri. “Jika ada orang yang masih serakah, maka puasanya perlu dipertanyakan,” tegasnya.
Kedua, bayi tidak pernah sombong. Menurutnya, Ramadan seharusnya melahirkan pribadi yang rendah hati. Tidak pantas bagi seseorang yang telah sebulan beribadah untuk kemudian menunjukkan kesombongan setelah Idulfitri.
Ketiga, bayi tidak memiliki rasa dendam. Ia mengingatkan makna Idulfitri adalah kembali suci dan saling memaafkan. Apabila masih menyimpan dendam kepada sesama, maka perlu direnungkan kembali kualitas puasa yang telah dijalankan.
Keempat, bayi memiliki sifat ikhlas. Sifat inilah yang menjadi fondasi utama dalam beramal. “Kita harus beramal dengan ikhlas karena Allah SWT. Tanpa keikhlasan, ibadah hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna,” jelasnya.
Kultum berlangsung dalam suasana penuh perhatian. Jamaah tampak menyimak setiap pesan yang disampaikan, sebelum akhirnya melaksanakan sholat tarawih berjamaah.
Melalui pesan tersebut, Ust. Chairani Idris mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan karakter, bukan sekadar peningkatan ritual. Ia berharap, setelah Ramadan berakhir, umat Islam benar-benar tampil sebagai pribadi yang lebih bersih, rendah hati, tanpa dendam, serta tulus dalam beramal.
Momentum malam ke-8 Ramadan itu pun menjadi pengingat bila tujuan akhir ibadah bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi membentuk akhlak yang mencerminkan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari. (HNG/JCI).













