Banjarmasin, Jukung.co.id – Pasar Wadai Ramadan kembali hadir meramaikan suasana bulan suci sebagai pusat kuliner tradisional Banjar yang selalu dinantikan masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya. Beragam wadai khas Banjar seperti amparan tatak, bingka, putri selat, apam, lupis, ipau, hingga aneka minuman segar siap memanjakan lidah warga yang berburu takjil menjelang waktu berbuka puasa.
Tidak sekadar menjadi tempat berburu makanan berbuka, Pasar Wadai Ramadan juga memiliki peran penting sebagai etalase pelestarian kuliner dan budaya lokal Banjar yang diwariskan secara turun-temurun.
Pada Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 ini, Pemerintah Kota Banjarmasin kembali bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam penyelenggaraan Pasar Wadai Ramadan. Lokasi pelaksanaannya pun tetap dipusatkan di kawasan Siring Paal 0, Jalan Jenderal Soedirman, Kecamatan Banjarmasin Tengah, yang selawas ini menjadi ikon kegiatan keagamaan dan budaya kota.
Namun, ada sedikit perbedaan dalam pelaksanaan tahun ini. Berdasarkan hasil rapat bersama Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj. Ananda, serta jajaran Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, event tahunan tersebut resmi menggunakan nama Festival Pasar Wadai Ramadan Banjarmasin.
Kepala Disbudporapar Banjarmasin, Ibnu Sabil menegaskan, perubahan tersebut tidak mengubah esensi utama kegiatan. Penambahan kata “festival” bertujuan untuk menambah semarak dan daya tarik acara, terlebih dengan adanya partisipasi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari luar daerah.
“Pada prinsipnya tidak ada perubahan signifikan. Namanya saja yang ditambah menjadi festival agar lebih meriah, apalagi ada UMKM dari luar daerah yang ingin ikut berpartisipasi,” ujar Ibnu Sabil, kamarian Jumat (30/01/2026).
Meski dikemas dengan nuansa festival, Ibnu Sabil menekankan, identitas budaya Banjar tetap menjadi roh utama kegiatan tersebut. Hal ini sejalan dengan arahan Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, yang menginginkan agar Pasar Wadai Ramadan tahun ini tampil lebih hidup, berwarna, dan mencerminkan jati diri Banjarmasin.
“Melalui Festival Pasar Wadai Ramadan ini, kami ingin menghidupkan identitas budaya dan tradisi Banjar. Masyarakat yang datang tidak hanya membeli makanan, tetapi juga bisa merasakan jiwa dan suasana khas Kota Banjarmasin,” jelasnya.
Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan festival, Disbudporapar menyiapkan 100 stand gratis bagi masyarakat umum yang ingin berjualan selawas kegiatan berlangsung. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan ruang yang adil bagi pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produknya, khususnya kuliner khas Ramadan.
Namun demikian, Ibnu Sabil menegaskan, para calon peserta tetap wajib mengikuti proses pendaftaran dan seleksi sesuai ketentuan yang berlaku. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas produk serta ketertiban selama festival berlangsung.
Selain itu, Disbudporapar juga menegaskan larangan terhadap praktik jual beli lapak. Pihaknya tidak akan mentoleransi pelanggaran tersebut dan akan memberikan sanksi tegas bagi siapa pun yang terbukti menyalahgunakan fasilitas gratis yang disediakan pemerintah.
“Kami menyediakan 100 stand secara gratis. Jika ada yang kedapatan memperjualbelikan lapak, akan langsung kami keluarkan sebagai penerima lapak gratis,” tegasnya. (EPW/JCI).













