Banjarmasin, Jukung.co.id – Di sebuah gang kecil di kawasan Jalan Veteran, Kelurahan Sungai Bilu, Kecamatan Banjarmasin Timur, berdiri sebuah rumah sederhana yang menyimpan kearifan lokal khas masyarakat Banjar. Dari tempat inilah Laung Banjar, penutup kepala tradisional lelaki suku Banjar, terus diproduksi secara turun-temurun dengan teknik tradisional yang masih dipertahankan hingga kini.
Laung merupakan bagian penting dalam identitas budaya masyarakat Banjar. Selain berfungsi sebagai penutup kepala, laung menjadi simbol status sosial, adat, hingga kehormatan dalam berbagai upacara tradisional. Dari delapan jenis laung yang dikenal, dua model utama paling sering digunakan yaitu laung tukup dan laung tinggi atau tanjak.
Budayawan sekaligus pengrajin laung Banjar, Masdar, mengungkapkan laung pada masa lalu digunakan hanya sebagai pelindung kepala, namun kini maknanya semakin luas. Laung menjadi simbol identitas suku Banjar yang melekat kuat pada pemakainya dan memiliki nilai budaya tinggi.
Pengrajin seperti Masdar juga terus melakukan inovasi terhadap warna dan motif tanpa meninggalkan pakem tradisional. Inovasi tersebut mengikuti kebutuhan pembeli sekaligus menjaga agar laung tetap relevan dan diminati generasi muda.
Masdar menjelaskan, pembuatan laung tertentu, terutama laung untuk raja, memiliki aturan khusus dan hanya dapat dibuat sekali dalam setahun. Proses pengerjaan juga diawali dengan ritual piduduk atau pemberian sesajen sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan adat Banjar. Sesajen biasanya diberikan kepada orang yang dianggap sesepuh atau tokoh adat.
Masdar menegaskan, laung bukan sekadar aksesori kepala, melainkan ikon budaya lelaki Banjar yang mengandung nilai estetika, sejarah, dan identitas leluhur. Ia berharap generasi muda semakin mengenal dan bangga menggunakan laung, sehingga warisan budaya ini tetap hidup, populer, dan tidak tergerus perubahan zaman. (AHF/JCI).
