“Kembang Darah” Hidupkan Hikayat Banjar di Panggung Malam Batanam Karya 2025

“Kembang Darah” Hidupkan Hikayat Banjar di Panggung Malam Batanam Karya 2025

Banjarmasin, Jukung.co.id – Drama tari “Kembang Darah” menjadi magnet utama dalam pagelaran Malam Batanam Karya 2025 yang digelar di Gedung Balairungsari, Taman Budaya Kalimantan Selatan, malam Sabtu (31/10/2025). Pertunjukan yang diangkat dari Hikayat Banjar ini berhasil memadukan kekuatan tradisi dengan kreativitas modern, menghadirkan kolaborasi apik antara seni tari, teater, dan musik.

Dengan tata cahaya yang dramatis, iringan musik yang menyentuh, dan gerak tari penuh emosi, “Kembang Darah” menggambarkan kisah perjuangan, cinta, dan kehormatan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Banjar.

Pagelaran ini merupakan hasil karya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Selatan melalui UPTD Taman Budaya Kalsel, yang menampilkan delapan komunitas seni dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Tidak hanya sekadar hiburan, pertunjukan ini juga menjadi ruang ekspresi kreatif bagi seniman muda Banua.

Drama tari “Kembang Darah” berkisah tentang Putri Junjung Buih yang menunjukkan kasih sayangnya melalui bunga nagasari kepada dua putra Empu Mandastana, yakni Sukmaraga dan Patmaraga. Namun, bentuk kasih sayang itu disalahartikan oleh Lambung Mangkurat, dan menyebabkan nasib tragis bagi kedua anak tersebut.
Kesedihan mendalam membuat Empu Mandastana dan istrinya tidak kuasa menanggung duka hingga akhirnya menyusul ke alam nirwana. Kisah ini menjadi refleksi tentang cinta, kehormatan, dan pengorbanan yang membentuk nilai-nilai luhur budaya Banjar.Kepala Disdikbud Kalsel, Galuh Tantri Narindra, melalui Sekretaris Disdikbud, Hadeli Rosyaidi, memberikan apresiasi tinggi terhadap suksesnya kegiatan tersebut.
“Malam Batanam Karya menjadi wadah penting dalam menumbuhkan potensi dan kreativitas seniman muda di Kalimantan Selatan. Pagelaran ini membangkitkan semangat berkesenian generasi muda dan memperkaya khazanah budaya daerah,” ujarnya.

Hadeli Rosyaidi menambahkan, antusiasme penonton yang memadati area pertunjukan hingga ke luar gedung membuktikan bahwa masyarakat Kalsel memiliki kecintaan besar terhadap seni lokal.
“Drama tari Kembang Darah yang mengangkat kisah dari Hikayat Banjar mampu menghadirkan pertunjukan yang edukatif sekaligus menghibur,” tuturnya.Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Suharyanti, menjelaskan Malam Batanam Karya dirancang sebagai panggung kolaboratif tiga cabang seni yaitu musik, teater, dan tari.
“Malam ini luar biasa karena melibatkan delapan komunitas seni yang ahli di bidangnya masing-masing. Antusiasme penonton sangat tinggi hingga kami harus menyiapkan televisi tambahan di luar gedung,” jelasnya.

Suharyanti menegaskan, keberhasilan malam ini menjadi motivasi untuk menjadikan Malam Batanam Karya sebagai agenda tahunan.
“Ke depan kami akan menampilkan lebih banyak kolaborasi antar cabang seni agar semakin menarik. Tugas Taman Budaya adalah merangkul semua seniman agar setiap bidang memiliki ruang yang sama untuk tampil,” ujarnya.

Pimpinan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan, Elly Rahmi Adjim Arijadi, turut memberikan apresiasi tinggi terhadap garapan “Kembang Darah” yang dinilai penuh inovasi.
“Garapan ini luar biasa karena memanfaatkan panggung dari berbagai sudut ruangan. Pertunjukannya sangat memukau penonton,” ucapnya.

Elly Rahmi Adjim Arijadi menilai, kisah legenda Kembang Darah memang tidak berubah dari masa ke masa, namun cara penyajiannya yang kini digarap oleh anak muda memberikan warna baru.
“Jika dulu almarhum DMA Adjim Arijadi menggarapnya lewat teater, malam ini disajikan dengan perpaduan tari, musik, dan teater yang segar. Ini langkah tepat untuk menarik minat penonton muda,” jelasnya.

Ia juga mengenang kolaborasi serupa di era 2000-an yang melibatkan tiga maestro seni Banjar yaitu DMA Adjim Arijadi, Bachtiar Danderta, dan Anang Ardiansyah.
“Garapan kali ini terasa sangat berbeda karena memanfaatkan teknologi dan kreativitas generasi muda. Panggung teater kini bisa di mana saja, depan, muka serta belakang,  dan malam ini membuktikan bahwa seni Banjar terus hidup dan berevolusi,” tuturnya.

Pagelaran Malam Batanam Karya 2025 pun menutup malam dengan tepuk tangan panjang penonton, menandai semangat baru dalam pelestarian budaya Banjar di era modern.
Seni tradisi tidak lagi sekadar nostalgia, tetapi menjadi ruang ekspresi yang hidup, dinamis, dan membanggakan identitas Banua. (HNG/JCI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *