Loksado, Jukung.co.id — Warga Suku Dayak di Desa Halunuk, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), kembali menggelar Aruh Adat Bayumbung sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah tahun ini. Upacara adat yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan ini berlangsung selawas tujuh hari tujuh malam, mulai 14 hingga 20 September 2025, di Balai Adat Bayumbung.
Ratusan warga memadati balai adat sejak hari pertama pelaksanaan. Mulai dari para tetuha adat, orang tua, pemuda, hingga anak-anak ikut larut dalam suasana sakral dan sukacita, menandai berakhirnya musim panen sekaligus doa bersama agar hasil panen tahun depan tetap berlimpah.
Penghulu Balai Bayumbung, Ambut, menjelaskan aruh adat ini sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Dayak Halunuk yang selalu dilaksanakan pada bulan sembilan saban tahun, setelah musim panen berakhir. “Aruh adat ini dilaksanakan sekali dalam setahun, sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang kami terima. Tahun ini panen sangat menggembirakan, luar biasa melimpah,” ujar Ambut, Senin (15/09/2025).
Ia menambahkan, selain warga Desa Halunuk, acara ini juga dihadiri masyarakat dari berbagai daerah, seperti Kandangan, Banjarmasin, bahkan ada tamu dari luar Pulau Kalimantan yang sengaja datang untuk menyaksikan prosesi adat tersebut. “Banyak tamu datang dari jauh, ingin melihat langsung aruh adat kami. Ini membanggakan sekaligus menambah semangat kami untuk terus melestarikan budaya ini,” imbuhnya.
Prosesi adat dimulai dengan ritual penghormatan kepada leluhur, dipimpin tetuha adat sebelum acara utama dimulai. Ritual tersebut kemudian dilanjutkan dengan tarian tradisional khas Dayak Loksado yang diiringi alunan musik etnik dari gong dan gendang bambu, menciptakan suasana penuh makna dan kebersamaan.
Kepala Adat Balai Bayumbung, Imuh, menyampaikan pelaksanaan aruh adat di Kecamatan Loksado digelar secara bergiliran di setiap desa setelah panen usai. “Biasanya di bulan Juni warga sudah selesai panen. Setelah itu aruh adat dilaksanakan di berbagai balai adat seperti Manutui, Malinau, Halunuk, Ulang, Haratai, Kamawakan, hingga Tumingki,” jelasnya.
Ia menambahkan, tahun ini tidak ada laporan gagal panen di wilayah Loksado, bahkan hasil pertanian meningkat signifikan. Hal ini menambah semangat warga untuk menggelar aruh adat dengan lebih meriah.
Kehadiran tokoh masyarakat dari luar daerah turut memberi warna dalam kegiatan tersebut. Pembina DPP Forum Komunikasi Pemersatu Warga Kalimantan (FKPWK), Junaidi, mengaku bersyukur dapat menyaksikan langsung prosesi sakral ini. “Aruh adat seperti ini merupakan warisan budaya yang sangat berharga dan harus terus dipertahankan. Saya bangga bisa melihat langsung semangat masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Umum DPP FKPWK, Rachmad Fadillah, SH, yang menilai aruh adat bukan sekadar ritual syukuran panen, tetapi juga simbol kekuatan budaya yang tak lekang oleh waktu. “Prosesi aruh adat ini menggambarkan budaya bahari dan agraris masyarakat Dayak Loksado tetap hidup dan dipertahankan. Kami berterima kasih kepada para tetuha adat yang telah memberi kesempatan bagi kami menyaksikan langsung prosesi ini,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar acara adat, Aruh Adat Bayumbung juga menjadi wadah mempererat persaudaraan antarwarga dan memperkuat identitas budaya Dayak di tengah arus modernisasi. Selawas tujuh hari penuh, masyarakat bergotong royong menyiapkan sajian tradisional, melantunkan doa-doa adat, dan menampilkan kesenian khas Loksado.
Tradisi aruh adat di Desa Halunuk pun menjadi pengingat syukur, kebersamaan, dan pelestarian budaya adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Dayak Loksado, sebuah warisan luhur yang akan terus dijaga lintas generasi. (HNG/JCI).












