Banjarmasin, Jukung.co.id – Sektor perikanan di Banjarmasin menunjukkan kinerja positif dalam lima tahun terakhir. Baik perikanan budidaya maupun tangkap mengalami peningkatan produksi yang cukup signifikan, menandakan geliat ekonomi warga di sektor ini terus tumbuh.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian wan Perikanan (DKP3) Β Banjarmasin, produksi perikanan budidaya tercatat meningkat dari sekitar 2.332 ton pada tahun 2021 menjadi 2.804,12 ton pada tahun 2025. Berbagai komoditas unggulan turut menyumbang angka tersebut, di antaranya lele, nila, patin, gurame, hingga lobster banyu tawar.
Kada hanya budidaya, sektor perikanan tangkap juga mengalami lonjakan yang lebih signifikan. Produksi meningkat dari sekitar 1.031,798 ton pada tahun 2021 menjadi 2.351,054 ton pada tahun 2025. Beragam jenis iwak lokal nangkaya papuyu, haruan, baung, hingga iwak laut nangkaya kakap putih wan teri nasi menjadi hasil tangkapan yang mendominasi.
Kepala Bidang Perikanan DKP3 Banjarmasin, Sulaiman, baisukan Senin (27/04/2026) menyampaikan, tren peningkatan ini terjadi secara konsisten saban tahun. Ia menyebutkan, pada tahun 2024 produksi perikanan tangkap mencapai 2.328,411 ton wan kembali meningkat pada 2025 menjadi 2.351,054 ton. Sementara itu, produksi budidaya juga mengalami kenaikan dari 2.758,385 ton menjadi 2.804,12 ton pada periode yang sama.
Menurutnya, pertumbuhan ini kada terlepas berkembangnya kelompok usaha baru di sektor perikanan, baik pada tahap budidaya, penangkapan, pengolahan, hingga pemasaran hasil perikanan. Hal ini turut mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memperluas rantai ekonomi warga.
Namun demikian, di balik tren positif tersebut, pelaku usaha masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang cukup menonjol adalah persoalan efisiensi budidaya, terutama pada komoditas iwak haruan yang selawas ini menjadi salah satu ikon kuliner Kalimantan Selatan.
Sulaiman menjelaskan, budidaya iwak haruan mulai kurang diminati karena membutuhkan waktu panen yang relatif lawas, yakni sekitar 1,5 tahun, serta biaya pakan yang cukup tinggi. Kondisi ini membuat pelaku usaha lebih memilih komoditas lain nangkaya lele yang dapat dipanen dalam waktu jauh lebih singkat, sekitar 2,5 bulan.
Data menunjukkan adanya penurunan produksi iwak haruan, khususnya matn sektor budidaya. Pada tahun 2024, produksi haruan budidaya mencapai 233,748 ton, namun turun drastis menjadi 73,2 ton pada tahun 2025. Sementara dari sektor tangkap, penurunan terjadi meski kada terlalu signifikan, matan 362,538 ton menjadi 362,358 ton.
Padahal, dari sisi permintaan pasar, iwak haruan masih tergolong tinggi, terutama gasan kebutuhan kuliner khas daerah yang menjadikan iwak ini sebagai bahan utama.
Selain faktor efisiensi, tantangan lain yang dihadapi adalah kondisi cuaca yang kada menentu. Perubahan suhu ekstrem, baik akibat panas maupun hujan, dapat memengaruhi kualitas banyu wan berdampak pada kesehatan iwak. Beberapa kasus kematian iwak bahkan sempat terjadi di kawasan Alalak, khususnya pada komoditas patin, lele, wan haruan.
Gasan mengantisipasi hal tersebut, DKP3 Banjarmasin terus melakukan koordinasi lawan buhan penyuluh perikanan gasan memperkuat pendampingan kepada pelaku usaha. Meski demikian, keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi kendala dalam optimalisasi pendampingan di lapangan.
Selain itu, pemantauan informasi cuaca juga terus dilakukan dengan mengacu pada data matan BMKG. Buhan pembudidaya diimbau menyesuaikan waktu tebar wan panen gasan meminimalisir risiko kerugian akibat perubahan cuaca ekstrem.
Dengan berbagai upaya tersebut, Pemerintah Kota Banjarmasin optimistis sektor perikanan akan terus berkembang wan mampu menjadi salah satu penopang utama ekonomi daerah, sekaligus menjaga ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal. (EPW/JCI).












