Banjarmasin, Jukung.co.id – Kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi di Banjarmasin pada awal tahun 2026. Berdasarkan data inflasi periode Januari hingga Februari 2026, tingkat inflasi di Banjarmasin tercatat mengalami kenaikan dari 0,13 persen menjadi 0,76 persen.
Pemerintah Kota Banjarmasin menyebut lonjakan harga emas perhiasan menjadi faktor dominan yang mendorong meningkatnya inflasi pada periode tersebut.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Banjarmasin, Siane Apriliawati, menjelaskan komoditas emas perhiasan memberikan kontribusi paling besar terhadap kenaikan inflasi dibandingkan komoditas lainnya.
“Pendorong utamanya masih emas perhiasan. Komoditas ini menyumbang inflasi sekitar 0,37 persen,” ujarnya, jelang tengah hari Senin (09/03/2026).
Menurutnya, kenaikan harga emas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak serta merta menurunkan minat masyarakat untuk membeli emas perhiasan.
Di Banjarmasin, permintaan terhadap emas justru masih tergolong tinggi meskipun harga logam mulia tersebut sedang mengalami lonjakan.
Siane Apriliawati menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya beli warga di Banjarmasin masih relatif baik.
Hal ini terlihat dari kemampuan warga untuk tetap membeli emas perhiasan meskipun harganya sedang berada pada level yang cukup tinggi.
“Dapat disimpulkan daya beli warga masih cukup baik. Walaupun harga emas tinggi, warga tetap membeli,” ucapnya.
Ia menjelaskan salah satu faktor yang membuat warga tetap tertarik membeli emas adalah karena emas dianggap sebagai instrumen investasi yang relatif aman.
Banyak warga yang memilih menyimpan emas sebagai bentuk investasi jangka panjang dibandingkan menyimpan duit tunai.
Menurut Siane Apriliawati, emas memiliki nilai yang relatif stabil dan cenderung mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.
“Banyak warga merasa lebih aman menyimpan emas karena nilainya relatif stabil dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun,” jelasnya.
Ia mencontohkan, pada tahun 2024 lalu harga emas masih berada di kisaran Rp1 juta per gram. Namun dalam waktu relatif singkat, harga tersebut terus meningkat hingga kini mendekati Rp3 juta per gram.
Kenaikan harga yang cukup signifikan tersebut turut memengaruhi pergerakan inflasi di Banjarmasin.
Selain emas perhiasan, terdapat beberapa komoditas lain yang juga memberikan kontribusi terhadap kenaikan inflasi, di antaranya ayam ras, hundang basah, tarif angkutan udara, serta busana muslim wanita.
Untuk mengantisipasi dampak inflasi terhadap warga, Pemerintah Kota Banjarmasin terus melakukan berbagai langkah pengendalian harga, khususnya terhadap komoditas kebutuhan pokok.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar program pasar murah selawas bulan Ramadan melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Banjarmasin.
Melalui program tersebut, berbagai bahan kebutuhan pokok dijual dengan harga yang lebih terjangkau karena mendapatkan subsidi dari pemerintah.
“Sejak awal Ramadan kami melaksanakan pasar murah dengan menjual berbagai komoditas kebutuhan pokok. Program ini bertujuan menjaga stabilitas harga sekaligus membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau karena disubsidi pemerintah,” pungkasnya. (EPW/JCI).













