Banjarmasin, Jukung.co.id – Festival Pasar Wadai Ramadan di kawasan Siring Paal 0, Jalan Jenderal Soedirman, Kecamatan Banjarmasin Tengah, menjadi sorotan setelah puluhan pedagang kaki lima (PKL) terlihat berjualan hingga ke badan jalan dan memanfaatkan lapak stan di dalam area pasar.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah stan yang semestinya diperuntukkan bagi pedagang makanan, minuman, serta wadai khas Ramadan justru ditempati pedagang non-kuliner. Tidak hanya itu, sepanjang jalur pejalan kaki dan badan jalan di sekitar area pasar dipadati PKL, sehingga menimbulkan kesan semrawut dan minim penataan.
Menanggapi kondisi tersebut, Koordinator Event Organizer (EO) Festival Pasar Wadai Ramadan Banjarmasin, Muhammad Budiansyah, memberikan penjelasan terkait kebijakan yang diambil pihak penyelenggara.
Menurutnya, lokasi khusus untuk PKL sebenarnya telah disiapkan di depan kantor Korem 101/Antasari, tidak jauh dari kawasan utama pasar.
“Awalnya lokasi untuk para PKL sudah kami sediakan di depan kantor Korem 101/Antasari. Namun sejak hari pertama pembukaan, pengunjung terus membeludak. Akhirnya lokasi tersebut kami jadikan lahan parkir, dan para PKL kami geser masuk ke dalam area Pasar Wadai,” ujarnya, tengah hari Kamis (26/02/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan jumlah pengunjung yang signifikan membuat kebutuhan lahan parkir menjadi prioritas. Kondisi itu menyebabkan penyesuaian tata ruang di dalam area pasar, termasuk penggabungan PKL ke zona yang sebelumnya difokuskan untuk pedagang kuliner.
Muhammad Budiansyah menambahkan, kebijakan tersebut telah dikoordinasikan dengan Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin. Dari hasil koordinasi, arahan yang diterima adalah agar PKL tetap diakomodasi, mengingat momentum Ramadan menjadi kesempatan mereka mencari penghasilan.
“Kami sudah berkoordinasi langsung dengan Wali Kota dan beliau meminta untuk mengakomodir para PKL, namun harus ditata agar lebih rapi dan tidak mengganggu pengunjung. Karena mereka juga mencari rezeki di bulan Ramadan ini,” jelasnya.
Selawas berjualan di area pasar, para PKL akan dikenakan biaya harian antara Rp5.000 hingga Rp10.000. Dana tersebut, menurut Budiansyah, akan digunakan untuk mendukung operasional seperti pembayaran listrik serta menjaga kebersihan kawasan festival.
“Mereka akan dikenakan pembayaran sekitar Rp5.000 sampai Rp10.000 per hari. Duitnya dialokasikan untuk kebutuhan listrik dan kebersihan. Penataan ulang juga akan segera kami lakukan agar tidak semrawut,” ucapnya.
Terkait isu dugaan jual beli lapak, pihak penyelenggara menegaskan akan melakukan pengawasan ketat di lapangan. Jika ditemukan adanya pemilik stan yang menjual atau memindahtangankan lapaknya, maka akan langsung diberikan sanksi tegas.
“Kalau terbukti ada pemilik stan menjual lapaknya, akan langsung kami hentikan berjualan hari itu juga, diblacklist untuk tahun berikutnya, dan dikenakan sanksi Rp5 juta,” tegasnya.
Ia menyebutkan, dana dari sanksi tersebut nantinya akan dialokasikan untuk kegiatan sosial, seperti santunan anak yatim dan kegiatan kemasyarakatan lainnya selawas Ramadan.
Pihak EO memastikan penataan ulang akan segera dilakukan agar pelaksanaan Festival Pasar Wadai Ramadan tetap tertib dan nyaman bagi pengunjung. Selain itu, identitas Pasar Wadai sebagai pusat kuliner khas Ramadan di Banjarmasin diharapkan tetap terjaga, meski terjadi penyesuaian teknis di lapangan. (EPW/JCI).













