Malam ke-7 Ramadan 1447 H, Ustadz Mas’udi: Saat Kita Puasa, Kita Sedang Menjawab Panggilan Allah

Malam ke-7 Ramadan 1447 H, Ustadz Mas’udi: Saat Kita Puasa, Kita Sedang Menjawab Panggilan Allah

Banjarmasin, Jukung.co.id – Memasuki malam ketujuh Ramadan 1447 Hijriah, suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al Munawwarah di Jalan Keramat Raya, Banjarmasin Timur, malam Selasa (23/02/2026). Dalam kultum sebelum pelaksanaan sholat witir, Ustadz H. Mas’udi HS mengingatkan jamaah untuk melakukan introspeksi diri setelah sepekan menjalankan ibadah puasa.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Mas’udi menekankan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum memperkuat keimanan serta mengevaluasi kualitas ibadah yang telah dijalani.

Ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan, “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Menurutnya, hadis tersebut menegaskan panggilan berpuasa sesungguhnya ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Ketika seseorang menjalankan puasa, pada hakikatnya ia telah menjawab panggilan Allah SWT.

“Allah memanggil kita untuk berpuasa, tapi yang dipanggil berpuasa adalah orang yang beriman. Maka saat hari ini kita berpuasa, sejatinya kita sedang menjawab panggilan Allah,” ujar Ustadz Mas’udi di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan, pekan pertama Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk menilai kembali konsistensi ibadah. Apakah sholat berjamaah semakin terjaga, tilawah Al-Qur’an semakin rutin, dan sikap sehari-hari semakin baik. Introspeksi diri, menjadi kunci agar kualitas ibadah tidak menurun seiring berjalannya waktu.

Lebih lanjut, Ustadz Mas’udi mengingatkan agar umat Islam tidak hanya fokus pada aspek lahiriah puasa, tetapi juga memperhatikan dimensi batiniah seperti menjaga lisan, mengendalikan amarah, serta memperbaiki akhlak.

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Puasa adalah latihan kejujuran, kesabaran, dan pengendalian diri. Kalau hanya menahan lapar, itu belum cukup,” tegasnya.

Ia juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan sisa Ramadan dengan memperbanyak amal saleh, termasuk mempererat silaturahmi dan meningkatkan kepedulian sosial. Ramadan, menurutnya, adalah bulan pendidikan ruhani yang membentuk pribadi Muslim yang lebih baik.

Suasana kultum berlangsung khidmat. Jamaah tampak menyimak dengan serius setiap pesan yang disampaikan. Setelah tausiyah, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan sholat witir berjamaah.

Momentum malam ketujuh Ramadan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan ibadah masih panjang. Dengan introspeksi yang terus dilakukan, diharapkan umat Islam dapat menjaga semangat hingga akhir Ramadan dan meraih predikat takwa sebagaimana tujuan utama disyariatkannya puasa. (HNG/JCI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *