Banjarbaru, Jukung.co.id – Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di halaman Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Panglima Batur, Banjarbaru, baisukan Kamis (25/09/2025), menjadi ajang sinergi lintas instansi dalam upaya menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
Selain bahan pangan pokok, kegiatan ini juga menghadirkan gas elpiji tiga kilogram sebagai salah satu komoditas rumah tangga yang sering menjadi perhatian publik.
Program hasil kolaborasi Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Wilayah Kalimantan ini berhasil menarik minat masyarakat yang datang untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras SPHP, minyak goreng, hintalu ayam, dan gula pasir dengan harga terjangkau. Namun, tumpukan tabung gas melon yang disediakan di lokasi justru terlihat tidak banyak diminati warga.
Pasalnya, sebagian besar pengunjung tidak mengetahui pembelian gas elpiji di kegiatan tersebut mewajibkan warga membawa tabung kosong untuk ditukar dengan yang berisi. Akibatnya, banyak warga hanya melihat tanpa bisa membeli karena tidak membawa tabung dari rumah.
Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan, Ahmad Bagiawan, menjelaskan penyediaan gas elpiji tiga kilogram pada kegiatan GPM merupakan hasil kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan BUMD Bangun Banua Kalimantan Selatan.
“Program pengendalian inflasi ini melibatkan semua pihak, termasuk Bangun Banua yang menyediakan ratusan tabung gas elpiji tiga kilogram untuk masyarakat. Ini langkah konkret agar kebutuhan energi rumah tangga juga bisa dijangkau dengan harga terkontrol,” ujarnya di sela kegiatan.
Menurutnya, gas elpiji tiga kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon sering menjadi komoditas dengan fluktuasi harga yang memicu inflasi di beberapa wilayah. Dengan kehadiran gas elpiji di kegiatan GPM, pemerintah berupaya menjaga kestabilan harga dan memastikan ketersediaannya di tingkat konsumen.
Meski demikian, Ahmad Bagiawan mengakui perlunya peningkatan sosialisasi kepada masyarakat agar program ini bisa dimanfaatkan secara maksimal.
“Ke depan, kami akan mendorong agar panitia dan instansi terkait memberikan pemberitahuan sebelumnya kepada warga, bila pada kegiatan seperti Gerakan Pangan Murah tersedia gas elpiji. Jadi warga bisa membawa tabung kosong dari rumah dan tidak kehilangan kesempatan untuk membeli,” jelasnya.
Ia juga berharap kegiatan GPM tidak hanya menjadi momentum sesaat, tetapi dapat terus berlanjut secara berkala dengan melibatkan lebih banyak pihak, baik dari pemerintah daerah, BUMN, maupun sektor swasta. Dengan demikian, pengendalian inflasi bisa dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya pada pangan, tetapi juga pada komoditas energi rumah tangga seperti gas elpiji.
Warga yang hadir di lokasi umumnya menyambut baik kegiatan ini. Meskipun sebagian belum mengetahui aturan penukaran tabung gas, mereka mengapresiasi tersedianya berbagai kebutuhan pokok dengan harga murah yang membantu meringankan beban pengeluaran.
Gerakan Pangan Murah kali ini menjadi bagian dari rangkaian Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang diinisiasi oleh Bank Indonesia dan TPID Wilayah Kalimantan. Selain memperkuat stabilitas harga, kegiatan ini juga diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap bahan pangan dan energi dengan harga terjangkau, menuju Kalimantan Selatan yang tangguh dan berdaya saing di tengah dinamika ekonomi nasional. (HNG/JCI).












