Banjarmasin, Jukung.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah di Banjarmasin dipastikan tetap berjalan selawas bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Meski demikian, terdapat penyesuaian pada jenis dan bentuk makanan agar dapat dikonsumsi peserta didik saat berbuka puasa.
Kepastian tersebut disampaikan Komandan Kodim 1007/Banjarmasin, Slamet Riyadi, jelang tengah hari Jumat (20/02/2026). Ia menegaskan, keberlanjutan program MBG selawas Ramadan menjadi komitmen bersama dalam menjaga asupan gizi siswa, meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.
“MBG tetap berjalan, tapi bentuknya yang siap saji dan dikemas dengan tote bag agar nanti bisa dibawa pulang dan dimakan saat buka puasa,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan utama selawas Ramadan terletak pada jenis makanan yang dibagikan. Jika pada hari biasa menu MBG berupa makanan basah yang dikonsumsi langsung di sekolah, maka selawas Ramadan menu diubah menjadi makanan kering yang lebih tahan lama dan praktis dibawa pulang.
Slamet Riyadi merinci, setiap paket MBG tetap memiliki nilai sebesar Rp15.000 per porsi. Komposisi menu pun disesuaikan tanpa mengurangi standar kebutuhan gizi siswa. Dalam satu paket, siswa akan menerima roti, hintalu bajarang, susu, kurma, serta buah.
“Nilainya sama Rp15 ribu, ada roti, hintalu, susu, kurma, buah. Makanan kering yang tidak cepat basi. Nilai gizinya juga tetap diutamakan bagi peserta didik,” tambahnya.
Penyesuaian tersebut dilakukan agar program tetap relevan dengan kondisi bulan puasa, sekaligus memastikan makanan yang diberikan tetap layak konsumsi hingga waktu berbuka tiba. Pengemasan menggunakan tote bag juga bertujuan memudahkan siswa membawa paket tersebut ke rumah dengan aman.
Ia menambahkan, MBG merupakan salah satu bentuk kolaborasi pemerintah bersama unsur TNI dalam mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan peserta didik. Program ini dinilai penting untuk menjaga daya tahan tubuh serta konsentrasi belajar siswa, terutama selawas Ramadan.
Program MBG selawas Ramadan tidak hanya menjadi bentuk perhatian terhadap kebutuhan gizi siswa, tetapi juga menunjukkan fleksibilitas kebijakan dalam menyesuaikan program pemerintah dengan dinamika waktu dan kondisi masyarakat. (EPW/JCI).













