Banjarmasin, Jukung.co.id – Banyu setinggi linlutut orang dewasa masih menggenangi Komplek PWI RT 31, Kelurahan Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara. Sudah hampir satu bulan lawasnya, genangan itu menjadi bagian dari keseharian warga, mengalir pelan di halaman rumah, menyelinap ke ruang tamu, dan memaksa banyak orang mengubah cara hidup mereka.
Di balik genangan yang tidak kunjung surut itu, ada cerita tentang kesabaran, keluhan yang terpendam, dan harapan yang belum padam.
“Sudah hampir sebulan seperti ini. Banyunya tidak naik, tapi juga tidak surut. Kami jadi serba terbatas,” ucapnya pelan, baisukan Ahad (11/01/2026).
Banjir yang berlangsung lawas membuat warga harus menyesuaikan ritme hidup. Anak-anak lebih sering bermain di teras rumah, sementara sebagian warga memilih mengurangi aktivitas di luar. Malam hari, suara percikan banyu menjadi teman setia, menggantikan suasana kering yang dulu biasa mereka nikmati.
“Setiap tahun pasti banjir. Rasanya seperti sudah jadi rutinitas, tapi kami tetap berharap ini bisa diakhiri,” tuturnya.
Menurut Purnamasari, dulu aliran banyu di kawasan Komplek PWI masih cukup lancar. Gorong-gorong yang menjadi jalur pembuangan banyu berfungsi dengan baik. Namun setelah jalan diaspal, aliran itu perlahan menghilang.
“Dulu banyu bisa lewat. Sekarang tertutup, banyunya seperti terkurung di sini,” jelasnya.
Meski hidup di tengah genangan, semangat warga tidak sepenuhnya tenggelam. Mereka tetap saling menyapa, berbagi cerita, dan menjaga kebersamaan. Harapan kembali tumbuh ketika DPRD Banjarmasin datang meninjau kondisi banjir di kawasan tersebut.
Kunjungan itu menjadi momen penting bagi warga. Bukan hanya karena pejabat hadir, tetapi karena suara mereka akhirnya didengar. Warga menyampaikan keinginan sederhana: aliran banyu yang lancar, gorong-gorong yang kembali berfungsi, dan jalan yang lebih tinggi agar banjir tidak lagi mengurung rumah mereka.
“Kami tidak minta yang muluk-muluk. Kami hanya ingin bisa hidup normal tanpa harus menunggu banyu surut berhari-hari,” harapnya.
Kini, warga Komplek PWI Sungai Andai menunggu. Menunggu banyu benar-benar surut, menunggu janji penanganan terealisasi, dan menunggu hari ketika hujan tidak lagi menjadi awal dari kecemasan.
Di tengah banyu yang masih bertahan, harapan itu tetap mengapung seperti keyakinan bahwa suatu hari, genangan ini hanya akan tinggal cerita. (EPW/JCI).
