Banjarmasin, Jukung.co.id – Generasi Z yang berada pada rentang usia sekitar 13 hingga 20 tahun dinilai sangat rentan terpapar paham radikalisme dan terorisme. Tingginya intensitas penggunaan media sosial, ditambah rendahnya kemampuan menyaring informasi, menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran paham berbahaya di kalangan generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Muhammad Fauzi, usai kegiatan Refleksi Akhir Tahun Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Kalimantan Selatan Tahun 2025 yang digelar di Taher Square, Jalan Pierre Tendean, Kecamatan Banjarmasin Tengah, kamarian Jumat (19/12/2025).
Menurut Muhammad Fauzi, berdasarkan sejumlah hasil penelitian, generasi Z rata-rata menghabiskan waktu hingga enam jam per hari untuk mengakses media sosial. Namun, penggunaan tersebut sering tidak dibarengi dengan sikap kritis dalam menyaring informasi.
“Gen Z ini sangat aktif di media sosial. Masalahnya, mereka sering kali langsung membagikan konten ke grup WhatsApp atau ke teman-temannya tanpa memikirkan dampak dan kebenaran informasi tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu jenis konten yang paling mudah memicu emosi generasi muda adalah konten bernuansa keagamaan. Konten tersebut sering dikemas secara provokatif, sehingga mampu membangkitkan emosi tanpa memberikan pemahaman yang utuh.
“Padahal belum tentu konten itu benar, bahkan bisa saja hoaks. Mereka tidak mendalami substansi permasalahan, sehingga mudah terpengaruh dan diarahkan untuk memiliki pemikiran atau tindakan yang membahayakan orang lain,” jelasnya.
Muhammad Fauzi menambahkan, dalam banyak kasus, pihak yang memproduksi atau menyebarkan konten radikal tersebut memiliki tujuan tertentu, salah satunya untuk mencari pengikut atau simpatisan. “Ini yang sering terjadi. Konten dibuat untuk menarik perhatian dan memperbanyak pengikut, tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi anak-anak dan remaja,” tegasnya.
Untuk mencegah generasi Z terpapar paham terorisme, FKPT Kalimantan Selatan telah melakukan berbagai upaya sosialisasi dan edukasi. Salah satunya dengan mengumpulkan perwakilan dari sekolah-sekolah dalam satu forum guna memberikan pemahaman tentang bahaya radikalisme dan terorisme.
“Kami sudah beberapa kali melakukan sosialisasi dengan mengundang perwakilan sekolah. Bahkan pernah juga mengumpulkan anak-anak sekolah dasar melalui program anak dan perempuan,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, FKPT Kalsel juga pernah melaksanakan kegiatan daring yang melibatkan siswa sekolah dasar di Kalimantan Selatan dan Jakarta, sebagai bagian dari penguatan nilai kebangsaan sejak usia dini.
Dalam rangka memperkuat kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), FKPT Kalsel juga mengadakan berbagai kegiatan kreatif, seperti lomba menggambar bertema kebangsaan.
“Pencegahan paling efektif itu dilakukan sejak anak-anak. Melalui kegiatan kreatif seperti menggambar, nilai-nilai cinta tanah air bisa ditanamkan dengan cara yang menyenangkan,” tuturnya.
Selain menyasar anak-anak, FKPT Kalsel juga melibatkan pelajar tingkat menengah melalui kegiatan bersama Duta Pelajar yang berasal dari pengurus OSIS. Para pelajar tersebut pernah dikumpulkan dan diinapkan di sebuah hotel di Banjarbaru dengan dukungan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol).
“Keesokan harinya, mereka melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat di Lapangan Murjani Banjarbaru, bertepatan dengan kegiatan car free day, dengan mengajak masyarakat waspada terhadap paham-paham radikalisme,” jelasnya.
Muhammad Fauzi menegaskan, upaya pencegahan radikalisme dan terorisme tidak bisa hanya mengandalkan aparat keamanan, tetapi harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, terutama dunia pendidikan dan keluarga.
“Generasi Z adalah aset bangsa. Jika tidak kita lindungi sejak dini, mereka bisa menjadi sasaran empuk penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan,” pungkasnya. (HNG/JCI).
