Berita  

Terkendala Status Lahan, SDN Murung Raya 1 Banjarmasin Terendam Tiap Musim Hujan

Terkendala Status Lahan, SDN Murung Raya 1 Banjarmasin Terendam Tiap Musim Hujan

Banjarmasin, Jukung.co.id  — Musim hujan kembali menjadi momok bagi keluarga besar SD Negeri Murung Raya 1 Banjarmasin, yang berlokasi di Jalan Kelayan A Gang Laila, Kelurahan Murung Raya, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Selawas tiga mingguan ini, halaman sekolah mereka kembali terendam banjir dengan ketinggian mencapai 30 sentimeter, membuat area lapangan berubah menjadi genangan banyu bercampur lumpur dan lumut yang licin.Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Saban kali hujan turun disertai banyu pasang, halaman sekolah selalu terendam. Aktivitas belajar di luar ruangan pun praktis lumpuh total. Upacara bendera saban hari Senin dan berbagai kegiatan olahraga terpaksa dipindahkan ke panggung kecil atau pelataran depan ruang kelas yang sempit.

“Sudah hampir sebulan halaman sekolah kami calap, dan sampai sekarang belum surut. Kami terpaksa hentikan semua kegiatan luar ruangan demi keselamatan guru dan peserta didik,” ujar Kepala SD Negeri Murung Raya 1 Banjarmasin, Novi Ariyanti, jelang tengah hari Selasa (11/11/2025).Menurut Novi Ariyanti, permasalahan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Pihak sekolah sudah beberapa kali mengajukan usulan pembenahan halaman kepada Dinas Pendidikan Banjarmasin, namun hingga kini belum dapat direalisasikan. Bukan karena kurangnya perhatian, melainkan lantaran status lahan sekolah masih milik pribadi.

“Sekolah ini berdiri di atas tanah dengan status pinjam pakai. Karena belum menjadi aset pemerintah, otomatis Dinas Pendidikan tidak bisa mengalokasikan anggaran perbaikan atau pembangunan di area ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihak sekolah sebenarnya telah melakukan komunikasi dan pertemuan dengan pemilik lahan untuk membahas kemungkinan pemindahan hak milik kepada pemerintah. Namun hingga kini, belum ada titik terang dari Pemerintah Kota Banjarmasin terkait upaya pembelian atau alih status lahan tersebut.

Situasi ini membuat pihak sekolah merasa serba salah. Di satu sisi, mereka ingin memperbaiki lingkungan belajar agar lebih layak dan aman bagi siswa. Namun di sisi lain, tanpa status kepemilikan yang jelas, mereka tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pembangunan permanen.

“Yang paling kami khawatirkan adalah, kalau sewaktu-waktu lahan ini diambil kembali oleh pemiliknya. Artinya, seluruh kegiatan belajar mengajar bisa terancam pindah mendadak,” tuturnya dengan nada prihatin. Kondisi lapangan yang licak dan licin membuat peserta didik juga merasa kehilangan ruang bermain dan belajar di luar ruangan. Reza Adietya, salah satu siswa kelas 5, mengaku sedih karena sudah lawas tidak bisa bermain sepak bola bersama teman-temannya di halaman sekolah.

“Biasanya kami main bola waktu istirahat atau pelajaran olahraga. Sekarang kada bisa, karena calap terus,” ujarnya polos.

Hal serupa diungkapkan Fatimah Dina dan Halwa, dua siswi lainnya yang berharap halaman sekolah mereka segera dibenahi agar kegiatan belajar kembali normal. “Kami ingin halaman kami kering lagi supaya bisa upacara dan olahraga seperti dulu,” ucap mereka.

Kondisi SDN Murung Raya 1 Banjarmasin ini menjadi potret nyata persoalan aset pendidikan di Banjarmasin, di mana masih terdapat sekolah-sekolah negeri yang berdiri di atas tanah bukan milik pemerintah. Situasi tersebut membuat banyak program perbaikan dan rehabilitasi fisik terhambat secara administratif.

Musim hujan yang terus mengguyur wilayah Banjarmasin membuat halaman sekolah itu kembali menjadi “kolam tahunan” yang menunggu perhatian serius dari Pemerintah Kota Banjarmasin. (EPW/JCI).

Exit mobile version