Pemprov Kalsel Mantapkan Kajian Transportasi Massal Terintegrasi Banua Anam dan Saijaan–Bersujud, Target Implementasi 2027–2029

Pemprov Kalsel Mantapkan Kajian Transportasi Massal Terintegrasi Banua Anam dan Saijaan–Bersujud, Target Implementasi 2027–2029

Banjarmasin, Jukung.co.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terus mematangkan rencana pengembangan sistem transportasi massal terintegrasi yang mencakup dua klaster utama, yaitu Banua Anam dan Saijaan–Bersujud. Program strategis ini digagas untuk memperkuat konektivitas antarkawasan sekaligus mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalsel.

Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, M. Fitri Hernadi, menjelaskan saat ini pengembangan transportasi massal masih berada pada tahap kajian komprehensif. Kajian ini ditargetkan selesai pada 2026, agar seluruh rencana pembangunan dapat disusun dengan matang, sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah.

“Semua aspek sedang dikaji secara menyeluruh. Kajian ini ditargetkan rampung pada 2026 agar hasilnya benar-benar matang dan sesuai kebutuhan wilayah,” ujarnya, Jumat (24/10/2025) di Banjarmasin.

Kajian yang dilakukan meliputi pemodelan rute transportasi, pemetaan kawasan prioritas, serta analisis kebutuhan sarana dan prasarana bagi dua klaster tersebut. Setelah tahap kajian selesai, keputusan implementasi akan ditentukan oleh pimpinan daerah dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal pemerintah provinsi. “Setelah kajian selesai, keputusan ada di tangan pimpinan daerah. Pelaksanaan pembangunan bisa dimulai pada 2027, 2028, atau 2029,” tambahnya.

Wilayah Banua Anam diproyeksikan menjadi poros utama transportasi untuk kegiatan produksi dan industri. Kawasan ini akan menghubungkan pabrik karet di Hulu Sungai Tengah, Kawasan Industri dan KPI Seradang di Tabalong yang bergerak pada hilirisasi tambang dan bahan bangunan, serta Kawasan Industri Tapin (TIIPE) yang berfokus pada sektor agroindustri. Selain itu, Banua Anam juga disiapkan sebagai sentra produksi pangan terpadu dan modern, yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Sementara itu, klaster Saijaan–Bersujud ditargetkan menjadi pusat penguatan jalur logistik, konektivitas pesisir, serta mendukung sektor perikanan dan pariwisata bahari.

M. Fitri Hernadi menegaskan, pembangunan transportasi massal terintegrasi ini tidak hanya terkait dengan infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistem mobilitas yang efisien, inklusif, dan ramah lingkungan. “Kita ingin sistem transportasi ini tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga membuka akses ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ini langkah penting menuju Kalimantan Selatan yang lebih maju dan berdaya saing,” ujarnya.

Pemprov Kalsel optimistis, dengan rampungnya kajian pada 2026, sistem transportasi massal terintegrasi ini akan menjadi tonggak baru bagi pemerataan pembangunan dan transformasi ekonomi daerah. Program ini diharapkan membuka akses bagi wilayah yang memiliki potensi besar namun masih terbatas dari sisi konektivitas, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, industri, dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. (MC Kalsel/JCI).

Exit mobile version