Banjarmasin, Jukung.co.id – Evi (35) terkejut mendengar suara retakan keras dari dinding rumah semi permanennya di Jalan Uvaya, Kompleks Saka Agung, Kelurahan Pemurus Dalam, Banjarmasin Selatan, baisukan Sabtu (27/09/2025). Dengan panik, ia segera berlari ke kamar anak-anaknya.
“Bangun, cepat keluar!” teriaknya kepada tiga buah hati yang masih terlelap.
Hanya dalam hitungan detik, Evi harus membuat keputusan besar: menyelamatkan nyawa atau menyelamatkan harta benda. Ia memilih yang pertama. Tanpa sempat mengambil barang berharga, ia menggiring ketiga anaknya keluar rumah yang semakin condong dan nyaris roboh.
Air matanya tidak terbendung saat menoleh ke belakang, melihat rumah yang selawas ini menjadi tempat berlindung kini penuh retakan, miring, dan siap ambruk kapan saja. “Saya tidak bisa kembali lagi, takut sekali kalau tiba-tiba roboh,” ucapnya dengan suara bergetar.
Kini, Evi dan tiga anaknya tidak lagi memiliki tempat tinggal yang layak. Mereka sementara menumpang di rumah kerabat, menunggu kepastian bantuan dari pemerintah. “Harapan saya hanya satu, ada solusi dari pemerintah. Entah diperbaiki, atau kami dipindahkan ke tempat yang lebih aman,” ujarnya lirih.
Bagi warga Pemurus Dalam, kisah Evi bukan sekadar musibah biasa. Ia menjadi pengingat betapa rapuhnya hidup, dan betapa pentingnya uluran tangan di saat-saat sulit. (AHF/JCI).
