Banjarmasin, Jukung.co.id — Julukan “Kota Seribu Sungai” yang menjadi kebanggaan Banjarmasin kini terancam kehilangan maknanya. Banyak aliran sungai di kota ini yang mengalami pendangkalan, tertutup bangunan, bahkan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Kondisi ini menjadi sorotan Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Banjarmasin, Sarifah Saqinah, usai rapat perdana pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun 2026 bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) di ruang Paripurna DPRD, Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin Tengah, jelang kamarian Ahad (21/09/2025).
“Banjarmasin ini punya banyak sungai, tapi sebagian sudah dangkal dan tertutup bangunan. Kalau ini dibiarkan, bukan tidak mungkin banjir besar seperti 2021 akan terulang lagi,” tegasnya.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menilai pembenahan dan pemulihan sungai harus menjadi salah satu program prioritas utama Pemko Banjarmasin di tahun 2026.
Ia mengingatkan agar pemerintah tidak hanya menjadikan lomba seperti Maharagu Sungai sebagai kegiatan seremonial tahunan, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan.
“Kegiatan seperti Lomba Maharagu Sungai itu bagus karena membangkitkan kesadaran masyarakat. Tapi setelah lomba, harus ada pengawasan dan perawatan rutin. Jangan cuma bersih saat mau lomba, setelah itu dibiarkan lagi kotor,” ucapnya.
Normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, hingga penertiban bangunan liar di sempadan sungai harus menjadi program nyata dan terukur.
“Kalau hanya mengandalkan kegiatan tahunan tanpa tindak lanjut, hasilnya tidak akan terasa. Pemerintah perlu menyiapkan anggaran yang cukup untuk penanganan sungai, karena ini bukan proyek jangka pendek,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai.
Keterlibatan warga dinilai sangat menentukan dalam mencegah tumpukan sampah dan menjaga ekosistem air tetap lestari.
“Warga juga harus punya kesadaran. Jangan membuang ratik ke sungai. Sungai yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat. Ini soal kebiasaan dan kepedulian,” tuturnya.
Sarifah Saqinah menambahkan, sungai di Banjarmasin tidak sekadar warisan budaya, melainkan juga bagian penting dari sistem pengendalian banjir dan sumber kehidupan masyarakat. Menjaga sungai, menurutnya, berarti menjaga masa depan kota.
“Sungai adalah identitas Banjarmasin. Kalau kita biarkan mati, maka kita kehilangan jati diri sebagai kota banyu. Saya ingin sungai-sungai kita hidup lagi, bersih, indah, dan bisa dimanfaatkan masyarakat,” pungkasnya. (HNG/JCI).
