Banjarmasin, Jukung.co.id – Delapan jenazah korban kecelakaan helikopter BK117 D3 yang jatuh di kawasan Pegunungan Meratus, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, pada Senin (01/09/2025), resmi diserahkan ke RS Bhayangkara Banjarmasin untuk proses identifikasi.
Jenazah dievakuasi tim Basarnas dari lokasi jatuhnya helikopter di Hutan Desa Emil Baru dan diberangkatkan ke Banjarmasin melalui jalur darat menggunakan ambulans. Proses evakuasi ini terekam dalam video dokumentasi Humas Basarnas Banjarmasin.
RS Bhayangkara Banjarmasin menyatakan siap melaksanakan Disaster Victim Identification (DVI) terhadap para korban. Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan menjelaskan, kesiapan ini merupakan tindak lanjut dari pernyataan resmi Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol Dr. Muhammad El Yandiko yang disampaikan melalui Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Adam Erwindi.
“Untuk mempercepat dan memastikan keakuratan identifikasi, sejumlah langkah strategis telah disiapkan. RS Bhayangkara membuka posko antemortem untuk pengumpulan data keluarga, menyiapkan tim khusus untuk menggali informasi tanda fisik serta properti korban, serta berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk pemeriksaan DNA. Kami juga menyiapkan dukungan psikologis dan layanan trauma healing bagi keluarga korban,” ungkap Kapolda ketika konferensi pers bersama Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin, Pangdam VI, Pangdam XXII, Ketua DPRD, Danrem 101/Antasari, serta unsur Forkopimda lainnya baisukan Jumat (05/09/2025).
Jenazah para korban tiba di Banjarmasin pada dini hari Jumat (05/09/2025). Sejak saat itu, tim antemortem telah dikerahkan untuk mengumpulkan data awal berupa ciri fisik, catatan medis, hingga barang bawaan korban. Data tersebut nantinya akan dicocokkan dengan hasil tim rekonsiliasi untuk memastikan identitas masing-masing korban.
Dalam tragedi ini, diketahui tiga korban merupakan warga negara asing (WNA). Menyikapi hal itu, Polda Kalsel akan berkoordinasi dengan pihak Imigrasi guna mempermudah proses penyelidikan sekaligus pemulangan jenazah ke negara asal.
Meski demikian, proses identifikasi diperkirakan membutuhkan waktu berbeda untuk tiap korban. Apabila kondisi jenazah masih memungkinkan, identifikasi dapat dilakukan dengan cepat. Namun jika ditemukan kerusakan parah akibat terbakar atau pembusukan, maka identifikasi hanya bisa dilakukan melalui tes DNA yang memakan waktu lebih lawas. (HNG/JCI).
