Barito Kuala, Jukung.co.id – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (MAB) bukan hanya menjadi sarana implementasi ilmu pengetahuan, tetapi juga wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam membina dan memberdayakan masyarakat. Hal ini terlihat dalam kegiatan Kelompok 21 KKN Uniska MAB yang mengabdi di Desa Purwosari Baru RT 09, Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Dengan tema “Pemanfaatan Buah Lokal Sebagai Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif Masyarakat”, mahasiswa berusaha menggali, mengembangkan, dan memanfaatkan sumber daya lokal desa sebagai bagian dari penguatan kemandirian masyarakat berbasis kearifan lokal.
Salah satu program unggulan kelompok ini adalah penyuluhan pemanfaatan buah limau untuk pembuatan sirup, sekaligus pemanfaatan kulit limau sebagai bahan sabun cuci piring ramah lingkungan.
Program ini mendapatkan apresiasi dari Perwakilan Petugas Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi KKN Uniska MAB, Syarif Djaya, yang hadir langsung memantau kegiatan kelompok, tengah hari Sabtu, (02/08/2025).
“KKN adalah bentuk peran nyata mahasiswa di tengah masyarakat. Mahasiswa merupakan simbol dari agen perubahan sosial. Apa yang mereka pelajari di kampus harus dibawa ke masyarakat sebagai bentuk pengabdian,” ungkap Syarif Djaya.
Menurutnya, pemikiran masyarakat sering kali pragmatis dalam melihat limbah, padahal jika diolah dengan baik, limbah seperti kulit limau memiliki potensi ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga.
“Kita sering membuang limbah begitu saja, padahal bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat, bahkan bernilai jual. Ini yang sedang dicoba diperkenalkan oleh mahasiswa Uniska MAB,” tambahnya.
Tidak hanya fokus pada program tematik, Kelompok 21 yang terdiri dari 29 mahasiswa bersama satu orang dosen pendamping ini juga aktif dalam kegiatan sosial. Mereka melakukan pengabdian di TK-TPA Ar Rahman, membantu proses pembelajaran anak-anak serta menanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan sejak dini.
Sebagai bentuk penghargaan atas dukungan pemerintah desa selawas pelaksanaan KKN, mahasiswa juga menyerahkan cenderamata kepada aparat desa serta memasang palang batas desa sebagai kontribusi dalam memperjelas batas administratif wilayah.
Syarif Djaya berharap, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi budaya di lingkungan kampus, di mana mahasiswa tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga belajar bagaimana menjadi bagian dari masyarakat yang ikut menciptakan solusi.
“KKN ini bukan semata menjalankan kewajiban akademik, tapi harus menjadi proses pembelajaran sosial yang utuh. Ketika mahasiswa turun ke lapangan, mereka bukan hanya mengajar, tapi juga belajar,” tegasnya.
Kegiatan KKN di Desa Purwosari Baru ini menjadi contoh bagaimana ilmu pengetahuan, inovasi sederhana, dan semangat pengabdian bisa bersatu membentuk gerakan kecil yang berdampak besar.
Dengan pendekatan yang menyatu dengan nilai lokal dan kebutuhan masyarakat, mahasiswa Uniska MAB membuktikan, KKN bukan hanya sekadar program tahunan kampus, tetapi gerakan pemberdayaan akar rumput yang menginspirasi. (HNG/JCI).
