Bukan Sekadar Lomba, Desa Tegalrejo Didorong Jadikan Hidup Sehat sebagai Budaya

Bukan Sekadar Lomba, Desa Tegalrejo Didorong Jadikan Hidup Sehat sebagai Budaya

Kotabaru, Jukung.co.id – Menjadikan perilaku hidup bersih wan sehat sebagai kebiasaan sehari-hari menjadi tantangan sekaligus tujuan dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Upaya tersebut tercermin dalam penilaian Desa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2026 di Desa Tegalrejo, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kabupaten Kotabaru, tengah hari Selasa (08/09/2026).

Kedatangan tim juri tingkat provinsi disambut Pemerintah Kabupaten Kotabaru. Desa Tegalrejo dipercaya mewakili daerah Kotabaru setelah berhasil meraih predikat juara desa PHBS tingkat kabupaten wan melewati tahapan seleksi yang melibatkan desa-desa matan berbagai kecamatan.

Penilaian ini mengacu pada surat resmi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 400.7.27/2309/DINKES/2026. Namun, bagi pemerintah daerah, kegiatan  kada semata-mata menjadi ajang kompetisi gasan meraih prestasi, melainkan jua kesempatan mengevaluasi sejauh mana kebiasaan hidup bersih wan sehat telah diterapkan masyarakat.

Wakil Bupati Kotabaru, Syairi Mukhlis, mengatakan Desa Tegalrejo terpilih mewakili Kabupaten Kotabaru setelah melalui proses seleksi nang cukup ketat. Tahapan  mencakup presentasi matan 22 kecamatan wan verifikasi lapangan terhadap tiga nominasi terbaik.

Menurut Syairi Mukhlis, pencapaian tersebut menjadi bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab bagi Desa Tegalrejo gasan menunjukkan penerapan PHBS nang berkelanjutan.

“Desa Tegalrejo terpilih mewakili Kabupaten Kotabaru ke tingkat Provinsi Kalimantan Selatan setelah melalui seleksi ketat berupa presentasi matan 22 kecamatan wan verifikasi lapangan terhadap tiga nominasi terbaik,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan penerapan PHBS kada cukup ditunjukkan melalui kelengkapan administrasi atau persiapan menjelang penilaian. Hal nang lebih penting adalah konsistensi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan kebiasaan sehat, wan membangun kepedulian terhadap kesehatan keluarga.

Dalam penilaian, tim juri kada hanya menelaah dokumen nang disiapkan desa, tetapi jua melihat kondisi nyata di lapangan. Keterlibatan pemerintah desa, kader kesehatan, kelompok masyarakat, serta unsur lainnya menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Ketua Tim Penilai Desa Ber-PHBS, Yuliani, menegaskan  proses penilaian bukan bertujuan mencari kekurangan atau kesalahan desa. Sebaliknya, kegiatan ini menjadi sarana gasan mengetahui sejauh mana perilaku hidup bersih wan sehat bujur-bujur telah menjadi bagian matan kehidupan masyarakat.

“Penilaian ini bukan gasan mencari kekurangan atau kesalahan. Jika ditemukan hal-hal nang perlu diperbaiki, hendaknya menjadi masukan wan bahan evaluasi bersama,” ucapnya.

Menurutnya, penilaian lapangan diperlukan agar gambaran penerapan PHBS kada hanya berdasarkan laporan tertulis. Kondisi lingkungan wan keterlibatan berbagai unsur masyarakat jua menjadi bahan gasan melihat keberlanjutan program kesehatan di tingkat desa.

Apabila ditemukan hal-hal nang masih perlu dibenahi, hasil penilaian diharapkan dapat menjadi bahan perbaikan. Sementara itu, praktik baik nang sudah berjalan dapat dikembangkan wan dibagikan kepada desa lain.

Yuliani jua mengingatkan perilaku hidup bersih wan sehat kada seharusnya hanya terlihat ketika desa mengikuti perlombaan. Kebiasaan tersebut perlu dimulai matan rumah, diterapkan dalam keluarga, kemudian diperkuat melalui lingkungan masyarakat.

“PHBS harus menjadi budaya wan kebiasaan serta menjadi bagian matan kehidupan masyarakat,” harapnya.

Pesan tersebut menempatkan keberhasilan program PHBS bukan hanya pada hasil penilaian, tetapi jua pada kemampuannya membangun kebiasaan sehat nang terus berlangsung setelah kegiatan berakhir.

Dalam kesempatan itu, Syairi Mukhlis turut memaparkan salah satu inovasi unggulan daerah nang berada di Desa Tegalrejo, yakni Destinasi Wisata Goa Lowo.

Menurutnya, destinasi Wisata Goa Lowo telah ditetapkan sebagai Wisata Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) pertama berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kotabaru sejak 2022.

Keberadaan Goa Lowo menjadi salah satu potensi nang diperkenalkan dalam upaya mendorong gerakan kesehatan masyarakat. Pengembangan destinasi jua menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat dihubungkan lawan upaya membangun kesadaran mengenai pentingnya perilaku hidup sehat.

Meski demikian, penerapan PHBS tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas. Dukungan pemerintah desa, kader, keluarga, wan kelompok masyarakat diperlukan agar kebiasaan sehat kada berhenti pada kegiatan tertentu, tetapi terus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

Syairi Mukhlis berharap hasil evaluasi tim juri tingkat provinsi dapat menjadi motivasi sekaligus bahan perbaikan strategis bagi Kabupaten Kotabaru dalam mengoptimalkan gerakan kesehatan masyarakat.

Ia jua berharap pengalaman wan praktik baik nang dimiliki Desa Tegalrejo dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain nang masih mengembangkan penerapan PHBS.

“Kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama di bidang kesehatan. Serta Kotabaru dapat kembali masuk dalam jajaran terbaik di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, terutama di desa PHBS-nya,” harapnya.

Pelaksanaan penilaian turut melibatkan berbagai unsur pemerintah daerah wan masyarakat. Hadir Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kotabaru, Siti Khadijah Syairi Mukhlis, Sekretaris Daerah, Asisten Pemerintahan wan Kesejahteraan Rakyat, serta perwakilan sejumlah perangkat daerah.

Instansi nang hadir antara lain Bapperida, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman wan Pertanahan (Perkimtan), Dinas Pemberdayaan Masyarakat wan Desa (DPMD), Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Komunikasi wan Informatika, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Pendidikan, DP3AP2KB, serta Satpol PP wan Pemadam Kebakaran.

Ketua BUMDes Tegalrejo beserta anggota jua turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Keterlibatan lintas sektor ini mencerminkan upaya membangun desa sehat kada hanya berkaitan lawan pelayanan kesehatan. Kebersihan lingkungan, dukungan fasilitas dasar, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, wan peran keluarga turut menjadi unsur nang mendukung terbentuknya perilaku hidup bersih wan sehat. (RLS/JCI).

Exit mobile version