Banjarmasin, Jukung.co.id – Polemik terkait iuran kegiatan ibadah kurban di lingkungan sekolah mencuat di Banjarmasin. Sorotan publik tertuju pada SMA Negeri 5 Banjarmasin yang berlokasi di Jalan Sultan Adam, Kecamatan Banjarmasin Utara, setelah muncul keluhan matan sejumlah wali murid.
Keluhan tersebut menyebut adanya pengumpulan dana kurban yang dinilai bersifat wajib wan memberatkan. Salah saurang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku keberatan dengan adanya target pengumpulan dana di tingkat kelas.
Ia menyebutkan, setiap kelas diminta mengumpulkan dana hingga Rp1 juta, dengan kontribusi minimal Rp30 ribu per siswa.
“Ujarnya untuk pembelajaran, tapi gasan yang kurang mampu ini cukup memberatkan. Banyak yang merasa nangkaya dipaksa,” ungkapnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh beberapa siswa yang mengaku adanya sistem pengumpulan dana secara bertahap.
“Minggu ini Rp15 ribu, minggu depan Rp15 ribu,” ujar salah saurang peserta didik.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Negeri 5 Banjarmasin, Muchlis Takwin, memberikan klarifikasi pihak sekolah kad pernah menetapkan kebijakan pengumpulan dana matan kuwitan peserta didik gasan kegiatan kurban.
“Perlu kami tegaskan, sekolah kada pernah meminta sumbangan matan kuwitan peserta didik gasan penyembelihan hewan kurban,” ujarnya, jelang tengah hari Jumat (24/04/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut murni merupakan inisiatif peserta didik melalui organisasi sekolah yang ingin turut merasakan momentum Hari Raya Iduladha. Selawas ini, kegiatan kurban di sekolah umumnya dilaksanakan oleh guru wan tenaga kependidikan.
Ia menjelaskan partisipasi peserta didik dilakukan secara sukarela dengan menyisihkan duit jajan sebagai bagian pembelajaran nilai gotong royong wan kepedulian sosial.
“Ini bagian dari proses belajar. Namun jika dalam praktiknya ada yang mewajibkan dengan nominal tertentu, itu kada dibenarkan wan berada di luar kebijakan sekolah,” tegasnya.
Muchlis Takwin jua menekankan ibadah kurban pada dasarnya ditujukan gasan mereka yang mampu, sehingga kada bulih ada unsur paksaan dalam pelaksanaannya.
Pihak sekolah pun mengimbau agar kada terjadi kesalahpahaman di warga serta meminta sabarataan pihak memahami duduk persoalan secara utuh.
“Jika ada keberatan matan kuwitan, itu lain kebijakan sekolah. Ini perlu diluruskan agar kada menimbulkan persepsi yang keliru,” pungkasnya. (EPW/JCI).












