Banjarmasin, Jukung.co.id – Komisi II DPRD Banjarmasin menyoroti rencana pelaksanaan Launching Calendar of Event (CoE) 2026 Banjarmasin yang dijadwalkan di Provinsi Bali. Meski tidak menolak upaya promosi pariwisata, DPRD menegaskan setiap kegiatan harus memiliki urgensi yang jelas, efisiensi anggaran, serta manfaat yang terukur, terutama di tengah kebijakan efisiensi keuangan daerah.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Banjarmasin, Hendra, menilai pelaksanaan launching CoE di luar daerah perlu disertai penjelasan terbuka kepada publik, khususnya terkait tujuan kegiatan, indikator keberhasilan, serta dampak langsung yang diharapkan terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kami tidak mempermasalahkan promosi daerah. Namun, di tengah efisiensi anggaran, setiap kegiatan harus berbasis urgensi, efisiensi, dan manfaat yang terukur. Indikator keberhasilannya juga harus jelas,” tegasnya, jelang tengah hari Jumat (06/02/2026).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut menekankan, pelaksanaan launching CoE di luar daerah tidak boleh berhenti pada aspek seremonial semata. Pemerintah Kota Banjarmasin diminta memastikan adanya dampak konkret yang mampu mendorong realisasi kunjungan wisatawan ke daerah.
“Launching di luar daerah perlu dijelaskan secara terbuka. Apa targetnya, apa indikator keberhasilannya, dan apa dampaknya secara langsung bagi ekonomi dan PAD Banjarmasin. Itu yang akan kami dalami dalam fungsi pengawasan,” lanjutnya.
Hendra juga menyampaikan kekhawatirannya apabila promosi pariwisata di luar daerah tidak diikuti langkah-langkah nyata yang mampu langsung mengeksekusi minat wisatawan untuk berkunjung ke Banjarmasin.
“Sayang sekali jika ke luar daerah hanya sebatas launching. Harus ada upaya lanjutan yang bisa langsung berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan,” ujarnya.
Dalam pandangannya, Banjarmasin perlu memiliki event unggulan yang benar-benar kuat dan konsisten dalam menarik wisatawan. Salah satu potensi yang dinilai memiliki daya tarik besar adalah event berbasis budaya dan kearifan lokal.
“Banjarmasin harus punya event unggulan yang kuat. Misalnya Baayun Maulid, ini event budaya yang memiliki nilai heritage tinggi dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” jelasnya.
Selain itu, Hendra menekankan pentingnya integrasi promosi pariwisata dengan kerja sama bisnis ke bisnis (B2B), khususnya dengan agen perjalanan wisata. Menurutnya, wisatawan terutama mancanegara tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga kepastian akses, itinerary, hingga paket wisata yang siap dijalankan.
“Kami berharap selain launching, ada integrasi promosi dengan travel agent. Wisatawan itu ingin paket yang jelas, mulai dari rencana perjalanan sampai benar-benar terealisasi berkunjung ke Banjarmasin,” pungkasnya.
Komisi II DPRD Banjarmasin memastikan akan terus melakukan pengawasan terhadap kebijakan promosi pariwisata daerah agar sejalan dengan prinsip efektivitas, efisiensi, serta memberikan manfaat nyata bagi perekonomian dan masyarakat Kota Seribu Sungai ini. (EPW/JCI).
