Banjarmasin, Jukung.co.id – Di bawah cahaya Sanggar Gumilang Kaca, gerak lembut para penari mengalun seirama alunan musik tradisional Banjar. Tangan-tangan yang menari tidak hanya milik generasi muda, tetapi juga para penari senior yang pernah menghidupkan panggung sejak puluhan tahun silam. Kamarian Jumat, 12 Desember 2025, Tari Radap Rahayu kembali mengisahkan perjalanan panjang Sanggar Perpekindo Banjarmasin yang telah berusia 75 tahun.
Puluhan penari lintas generasi dari angkatan 1980-an hingga 2025, bersatu dalam satu tarian Radap Rahayu. Setiap gerakan bukan sekadar koreografi, melainkan simbol kesinambungan tradisi yang terus diwariskan dari masa ke masa. Inilah wajah hidup seni tari Banjar, yang dijaga agar tidak sekadar menjadi arsip, tetapi tetap bernapas di atas panggung.
Bagi Sanggar Perpekindo, Radap Rahayu bukanlah tarian biasa. Tarian inilah yang menjadi awal perjalanan sanggar yang didirikan maestro seni Banjar, Ki Amir Hasan Bondan, pada 25 November 1950. Sejak saat itu, Perpekindo tumbuh menjadi rumah besar bagi para penari Banjar, tempat belajar, berproses, dan mengabdikan diri pada budaya Banua.
“Radap Rahayu adalah ruh Perpekindo. Dari tarian inilah semuanya bermula,” tutur Heriyadi Haris, Ketua Sanggar Perpekindo Banjarmasin.
Perjalanan Perpekindo tidak selalu mulus. Pernah berkembang hingga Banjarbaru dan Barito Kuala, kini hanya Perpekindo Banjarmasin yang tetap bertahan. Meski demikian, sanggar ini justru terus melahirkan karya-karya penting yang memperkaya khazanah tari Banjar, seperti Baksa Kembang, Paksi Muluk, Bogam, Baksa Panah, Gerbang, Pagar Mayang, hingga Kenanga Dalam.
Salah satu karya yang paling membekas adalah Tari Meniti Buih, tarian yang mengangkat kehidupan Pasar Terapung, ikon budaya Kalimantan Selatan yang hanya dapat ditemukan di Indonesia dan Thailand. Melalui tarian ini, Perpekindo mengisahkan denyut kehidupan masyarakat sungai, lengkap dengan jukung dan aktivitas jual beli di atas banyu.
Tidak hanya di tingkat nasional, karya Perpekindo juga melanglang buana. Sanggar ini pernah tampil di World Expo ’92 Sevilla, Spanyol, serta Tournament of Roses di Pasadena, Amerika Serikat pada tahun 1994. Prestasi internasional lainnya diraih melalui Tari Japin Lenggang Banua, yang menjadi juara internasional pada tahun 2005, dengan menggabungkan ragam gerak tari dari seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan.
“Kalau generasi muda tidak ikut menjaga, budaya ini bisa hilang dimakan zaman. Sanggar hanya jembatan, pelestari sesungguhnya adalah mereka yang mau meneruskan,” ujarnya.
Di usia 75 tahun, Sanggar Perpekindo Banjarmasin bukan sekadar bertahan. Ia tumbuh sebagai saksi sejarah, ruang belajar lintas generasi, dan penjaga identitas Banua, tempat di mana tari bukan hanya dipentaskan, tetapi juga diwariskan dengan penuh cinta. (HNG/JCI).
