Banjarmasin, Jukung.co.id — Pembukaan Banua Creative Festival 2025 berlangsung meriah di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin, malam Sabtu (05/12/2025). Acara dibuka secara resmi Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin melalui Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Muhammad Syarifuddin, yang hadir bersama Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Iwan Fitriady.
Sejak pintu gedung dibuka, ribuan penonton memadati area pertunjukan yang berada di Jalan Hasan Basri, Banjarmasin Utara. Malam pembukaan festival yang mengusung tema “Titik Kumpul” ini menghadirkan berbagai penampilan seni dari pelaku ekonomi kreatif Kalimantan Selatan, mulai dari tari, musik, teater, hingga pameran produk kreatif.
Namun salah satu penampilan yang paling menyita perhatian penonton adalah pagelaran Opera Banjar “Seruni Pahlawan Bajau” yang dibawakan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Pementasan ini menghidupkan kembali karya monumental almarhum Datu Mangku Adat (DMA) Adjim Arijadi, pendiri Sanggar Budaya Kalsel, yang menulis naskah tersebut pada tahun 1988.
Sekdaprov Kalsel, Muhammad Syarifuddin, mengapresiasi pengemasan cerita yang dibawakan dengan energi dan visual yang kuat.
“Penampilan ini sangat menarik, terutama karena mengangkat cerita ‘Seruni Pahlawan Bajau’ dengan kemasan yang begitu baik. Ini adalah bentuk penghargaan seni terhadap sejarah dan budaya kita,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Iwan Fitriady, menyebutkan kolaborasi seni yang ditampilkan Sanggar Budaya Kalsel sangat patut diapresiasi.
“Pertunjukan ini dikemas begitu apik sehingga mampu memukau penonton. Ini menunjukkan kualitas seniman daerah yang tidak kalah dengan pagelaran besar lainnya,” ungkapnya.
Ketua Sanggar Budaya Kalimantan Selatan, Elly Rahmi Adjim Arijadi, menjelaskan opera ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarat pesan budaya dan nilai moral. Kisah “Seruni Pahlawan Bajau” mengangkat sejarah dan tradisi masyarakat Suku Bajau yang hidup sangat dekat dengan lautan di wilayah Kalimantan Timur dan Selatan, khususnya Kabupaten Kotabaru.
“Naskah ini sudah pernah kami pentaskan di Solo, Tenggarong, Jogja, Surabaya, NTB, hingga Banjarmasin. Bahkan pernah ada versi sinetronnya, meski sudah lawas. Mungkin ke depan bisa dibuat versi baru atau difilmkan dengan sentuhan modern,” jelasnya.
Opera ini menampilkan perpaduan sastra, tari, musik, teater, dan seni rupa, menjadikannya karya yang lengkap dan kaya estetika. Elly Rahmi Adjim Arijadi berharap, pementasan klasik bersejarah seperti ini dapat semakin diminati oleh generasi muda sebagai bentuk pelestarian budaya Banjar dan Bajau.
Pertunjukan ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-58 Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Elly Rahmi Adjim Arijadi menegaskan, pihaknya akan terus melanjutkan warisan kekaryaan almarhum Adjim Arijadi.
“Kami hanya penerus dari Abah Adjim. Dan kami tidak akan lepas dari karya-karya beliau,” tegasnya.
Banua Creative Festival 2025 akan berlangsung selawas beberapa hari dengan rangkaian agenda seni, ekonomi kreatif, hingga diskusi kreator yang diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku industri kreatif di Kalimantan Selatan. (HNG/JCI).













