Banjarmasin, Jukung.co.id — Saban baisukan, puluhan peserta didik SD Negeri Basirih 10 Banjarmasin di Jalan Sungai Jelai, Kelurahan Basirih Selatan, Kecamatan Banjarmasin Selatan, harus menghadapi tantangan yang tidak ringan sebelum sampai ke ruang belajar mereka. Jalan utama menuju sekolah rusak parah, berlubang, dan tergenang banyu, membuat anak-anak terpaksa berangkat ke sekolah hanya memakai sandal agar lebih mudah melintasi jalan berlumpur.
“Kadang jatuh kalau lewat jalan calap, licin sekali. Jadi pakai sandal saja biar mudah jalan,” tutur Muhammad Rival dengan nada hati-hati saat ditemui , baisukan Selasa (11/11/2025). Nazwa menambahkan, “Kami takut terlambat sekolah karena jalannya susah dilewati. Tapi tetap harus berangkat, walau batis basah.”
Namun, perjuangan mereka belum berakhir saat tiba di sekolah. Halaman SDN Basirih 10 juga tergenang banyu, membuat kegiatan belajar di luar ruangan terhenti. Walaupun ada halaman panggung kecil yang digunakan sebagai alternatif, para siswa merasa tidak leluasa beraktivitas karena ruangannya sempit dan terbatas.
“Kadang kami takut belajar di dalam kelas karena plafonnya bisa jebol. Kalau hujan deras, banyu menetes dari atap,” ujar Edo, salah satu siswa kelas empat. Sementara Alya, temannya, hanya bisa berharap sekolah mereka diperbaiki. “Kami ingin sekolahnya bagus, tidak bocor, dan halamannya tidak calap lagi,” ujarnya lirih.
Ironisnya, di saat kondisi ini berlangsung, fokus pembangunan fasilitas pendidikan Pemerintah Kota justru banyak diarahkan pada kawasan perkotaan yang lebih mudah dijangkau, meninggalkan sekolah-sekolah kecil di pinggiran.
Hingga kini, masih belum ada tindak lanjut nyata mengenai perbaikan akses jalan maupun rehabilitasi bangunan sekolah tersebut. Sementara itu, anak-anak di Basirih Selatan tetap melangkah saban baisukan dengan sandal basah, membawa semangat belajar di tengah kondisi yang jauh dari layak.
Mereka mungkin tidak menuntut gedung megah atau fasilitas canggih, mereka hanya ingin jalan yang aman, kelas yang tidak bocor, dan halaman sekolah yang kering. (EPW/JCI).
