TKD Berkurang, Bank Kalsel Diminta Berbenah wan Kada Bergantung pada Dana Pemda

TKD Berkurang, Bank Kalsel Diminta Berbenah wan Kada Bergantung pada Dana Pemda

Banjarmasin, Jukung.co.id – Pengurangan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dinilai dapat membawa dampak berantai, kada hanya terhadap kemampuan fiskal pemerintah daerah, tetapi jua terhadap kinerja Bank Pembangunan Daerah (BPD). Bank Kalsel menjadi salah satu lembaga keuangan daerah nang diminta mengantisipasi tekanan tersebut melalui pembenahan strategi bisnis wan pengelolaan perusahaan.

Pengamat sosial, Noorhalis Majid mengingatkan, berkurangnya alokasi TKD berpotensi menekan hampir seluruh BPD di Indonesia. Menurutnya, dampak kebijakan tersebut perlu diperhitungkan secara serius oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar keberlangsungan bank milik daerah tetap terjaga.

“Kalau pemerintah pusat ingin mendorong perekonomian daerah, termasuk mempertahankan BPD di seluruh Indonesia, dampak pengurangan TKD semestinya sudah diantisipasi. Apakah pemerintah pusat memahami pengaruh kebijakan ini terhadap BPD?” ujar mantan Ketua KPU Banjarmasin wayah ditakuni, jelang tengah hari Selasa (03/11/2026).

Noorhalis Majid nang pernah menjabat Kepala Perwakilan Ombudsman selawas dua periode itu menilai, Bank Kalsel kada boleh menganggap dirinya aman matan tekanan pengurangan TKD. Tanpa langkah antisipasi nang tepat, penurunan kinerja dikhawatirkan semakin dalam wan berpengaruh terhadap keberlangsungan bank daerah.

Ia menegaskan, upaya menghadapi persoalan tersebut kada cukup hanya dengan meminta pemerintah pusat mengoreksi kebijakan efisiensi wan pengurangan TKD. Bank Kalsel jua perlu menyiapkan strategi internal agar lebih tangguh menghadapi tekanan ekonomi wan perubahan kebijakan fiskal.

Menurut Noorhalis Majid, persoalan nang dihadapi Bank Kalsel memang kada sederhana. Kinerja perusahaan kada bisa semata-mata dibebankan kepada manajemen karena turut dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat serta kondisi ekonomi global nang berdampak pada perekonomian daerah.

Meski demikian, situasi tersebut justru harus menjadi momentum bagi Bank Kalsel untuk lebih adaptif wan berani melakukan pembenahan. Ia menyampaikan tiga langkah strategis nang perlu dipertimbangkan.

Pertama, Bank Kalsel perlu ikut mendorong perputaran ekonomi daerah dengan memperluas kerja sama bersama pengusaha lokal wan berbagai asosiasi dunia usaha, termasuk Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Selawas ini, sumber dana Bank Kalsel dinilai masih banyak bertumpu pada kas pemerintah daerah. Karena itu, dana pemerintah daerah semestinya kada hanya menjadi sumber likuiditas perbankan, tetapi jua dapat dioptimalkan gasan mendukung aktivitas ekonomi wan pengembangan dunia usaha di Kalimantan Selatan.

Kedua, melakukan efisiensi secara menyeluruh terhadap pengeluaran perusahaan. Seluruh komponen belanja, mulai dari gaji, bonus hingga berbagai biaya operasional lainnya, perlu dievaluasi agar sesuai lawan kemampuan wan kondisi perusahaan.

“Jangan sampai terjadi lebih besar pasak daripada tihang. Beban pengeluaran harus disesuaikan lawan kemampuan wan kondisi perusahaan,” tegasnya.

Ketiga, Bank Kalsel perlu membuka ruang partisipasi nang lebih luas dengan melibatkan pakar, akademisi, wan pelaku ekonomi. Noorhalis Majid menilai, kompleksitas persoalan perbankan daerah kada mungkin diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemikiran internal perusahaan.

Masukan matan berbagai kalangan diperlukan gasan memperkaya perspektif sekaligus merumuskan langkah penguatan wan penyelamatan bank daerah tersebut.

Noorhalis Majid jua mengingatkan agar kritik masyarakat terhadap Bank Kalsel kada dipandang sebagai serangan. Menurutnya, perhatian wan kritik publik justru mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan serta masa depan bank kebanggaan warga Kalimantan Selatan itu.

“Yakinlah, semua warga Kalsel sangat cinta wan peduli terhadap keberadaan serta masa depan Bank Kalsel. Kalau pun ada kritik, itu merupakan bagian dari kepedulian gasan menyelamatkan Bank Kalsel matan kinerja buruk,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menilai kualitas sumber daya manusia wan kemampuan manajemen tetap menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja perusahaan. Di tengah pengaruh kebijakan pemerintah wan kondisi ekonomi global, manajemen dituntut mampu membaca persoalan, mengambil keputusan tepat, serta menjalankan pembenahan secara terukur.

Tantangan Bank Kalsel ke depan bukan sekadar bertahan menghadapi pengurangan TKD. Bank daerah jua perlu memperkuat fondasi bisnis, memperluas sumber pendanaan, wan mengurangi ketergantungan terhadap dana pemerintah daerah agar memiliki sumber pertumbuhan nang lebih berkelanjutan. (BKS/JCI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *