Jakarta, Jukung.co.id — Aktivitas ekonomi di ruang digital semakin luas, wan kontribusinya terhadap penerimaan negara terus tercatat melalui berbagai skema perpajakan.
Hingga 31 Agustus 2026, pemerintah mencatat penerimaan matan sektor usaha ekonomi digital mencapai Rp57,23 triliun.
Penerimaan berasal matan empat kelompok utama, yakni PPN Perdagangan Melalui Sistem Elektronik atau PPN PMSE sebesar Rp44,05 triliun, pajak atas aset kripto Rp2,15 triliun, pajak fintech peer-to-peer lending Rp5,28 triliun, serta Pajak SIPP sebesar Rp5,75 triliun.
Matan sabarataan sektor tersebut, PPN PMSE masih menjadi kontributor terbesar.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, wan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Inge Diana Rismawanti, mengatakan hingga akhir Agustus 2026 sebanyak 277 pelaku PMSE telah ditunjuk sebagai pemungut PPN PMSE.
Pada Agustus 2026, DJP kembali memperbarui daftar pemungut. Dua pelaku usaha, STAAH Limited dan Aghanim Inc., ditunjuk sebagai pemungut baru. Sementara Expedia Lodging Partner Services Sarl dicabut matan daftar pemungut PPN PMSE.
Hingga 31 Agustus 2026, terdapat 244 pelaku PMSE nang telah melakukan pemungutan wan penyetoran PPN PMSE dengan total Rp44,05 triliun.
Penerimaan PPN PMSE terakumulasi sejak 2020. Pada 2020, setoran tercatat Rp731,4 miliar, kemudian meningkat menjadi Rp3,9 triliun pada 2021, Rp5,51 triliun pada 2022, Rp6,76 triliun pada 2023, Rp8,44 triliun pada 2024, wan Rp10,32 triliun pada 2025.
Sementara sepanjang 2026 hingga akhir Agustus, penerimaan PPN PMSE telah mencapai Rp8,38 triliun.
Selain perdagangan elektronik, transaksi aset kripto jua menjadi bagian matan penerimaan pajak ekonomi digital.
Hingga Agustus 2026, pajak dari transaksi aset kripto telah mencapai Rp2,15 triliun. Angka tersebut berasal dari penerimaan Rp246,54 miliar pada 2022, Rp220,89 miliar pada 2023, Rp620,38 miliar pada 2024, Rp796,74 miliar pada 2025, dan Rp268,95 miliar pada 2026.
Pajak transaksi kripto tersebut terdiri atas PPh Pasal 22 sebesar Rp1,27 triliun wan PPN Dalam Negeri sebesar Rp881,82 miliar.
Sektor fintech peer-to-peer lending jua memberikan kontribusi. Hingga 31 Agustus 2026, penerimaan pajak matan sektor tersebut mencapai Rp5,28 triliun.
Penerimaan pajak fintech tercatat Rp446,39 miliar pada 2022, Rp1,11 triliun pada 2023, Rp1,48 triliun pada 2024, Rp1,37 triliun pada 2025, wan Rp878,18 miliar sepanjang 2026 hingga Agustus.
Jika dilihat berdasarkan jenis pajaknya, penerimaan terdiri atas PPh Pasal 23 atas bunga pinjaman nang diterima wajib pajak dalam negeri wan bentuk usaha tetap sebesar Rp1,48 triliun.
Kemudian PPh Pasal 26 atas bunga pinjaman nang diterima wajib pajak luar negeri sebesar Rp728,13 miliar serta PPN Dalam Negeri sebesar Rp3,08 triliun.
Sementara itu, Pajak SIPP nang dipungut melalui Sistem Informasi Pengadaan Pemerintah jua menjadi bagian matan penerimaan ekonomi digital.
Hingga 31 Agustus 2026, penerimaan Pajak SIPP mencapai Rp5,75 triliun. Jumlah tersebut berasal matan Rp402,38 miliar pada 2022, Rp1,12 triliun pada 2023, Rp1,33 triliun pada 2024, Rp1,23 triliun pada 2025, wan Rp1,67 triliun pada 2026.
Penerimaan Pajak SIPP terdiri atas PPh Pasal 22 sebesar Rp417,65 miliar wan PPN sebesar Rp5,33 triliun.
DJP berharap kepatuhan pelaku usaha digital terus meningkat seiring berkembangnya aktivitas ekonomi berbasis teknologi.
“Kami berharap peningkatan kepatuhan pelaku usaha digital dapat terus memperkuat penerimaan negara sekaligus mewujudkan perlakuan perpajakan nang adil wan setara antara pelaku usaha konvensional wan digital,” ujar Inge Diana Rismawanti, jelang tengah hari Kamis (17/09/2026).
Data tersebut menunjukkan basis penerimaan pajak matan aktivitas digital kada hanya berasal matan perdagangan online. Transaksi kripto, layanan fintech, hingga aktivitas pengadaan pemerintah melalui sistem elektronik turut menjadi bagian ekosistem ekonomi digital nang masuk dalam administrasi perpajakan.
Informasi mengenai PPN produk digital luar negeri, termasuk daftar pemungut PPN PMSE, tersedia melalui situs resmi Direktorat Jenderal Pajak. (DJP/JCI).













