Banjarmasin, Jukung.co.id – Status eliminasi malaria nang telah diraih Banjarmasin kada membuat pemerintah daerah menurunkan kewaspadaan. Di tengah tingginya mobilitas masyarakat menuju daerah yang masih memiliki kasus malaria, Dinas Kesehatan Banjarmasin terus memperkuat sistem pencegahan gasan mengantisipasi masuknya kasus malaria matan luar daerah.
Langkah tersebut dibahas dalam Pertemuan Koordinasi Program Pencegahan wan Pengendalian Malaria yang digelar Dinas Kesehatan Banjarmasin di Aula Lantai 3 Dinas Kesehatan Banjarmasin, baisukan Kamis (16/07/2026).
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi lintas fasilitas pelayanan kesehatan supaya status eliminasi malaria di Banjarmasin dapat terus dipertahankan.
Kegiatan diikuti pengelola program malaria matan 28 puskesmas, 10 rumah sakit, Balai Kekarantinaan Kesehatan, serta Laboratorium Kesehatan Masyarakat Banjarmasin.
Forum tersebut juga menghadirkan narasumber matan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan gasan memperkuat pemahaman wan strategi pengendalian malaria di tingkat daerah.
Sejumlah strategi menjadi pembahasan utama dalam pertemuan tersebut. Mulai dari penguatan sistem surveilans, peningkatan kewaspadaan terhadap kasus malaria impor, penyamaan tata laksana penanganan pasien, percepatan pelaporan, hingga pelaksanaan penyelidikan epidemiologi.
Selain itu, pemerintah juga mulai memetakan kelompok pekerja yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi terpapar malaria lantaran aktivitas wan mobilitas mereka yang rancak dilakukan di wilayah endemis.
Plt Kepala Bidang Pencegahan wan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Banjarmasin, Rusdi, S.Kep., Ns, mengatakan status eliminasi malaria yang berhasil diraih Banjarmasin merupakan hasil kerja sama berbagai pihak.
Namun, capaian tersebut menurutnya harus terus dijaga lantaran ancaman malaria masih dapat muncul melalui kasus yang dibawa matan daerah lain.
“Keberhasilan memperoleh status eliminasi malaria merupakan hasil kerja keras sabarataan pihak. Tantangan ke depan adalah mempertahankan capaian tersebut, terutama dengan masih adanya risiko masuknya kasus malaria impor akibat tingginya mobilitas masyarakat ke daerah endemis,” ujarnya.
Menurut Rusdi, deteksi dini menjadi salah satu kunci penting gasan mencegah kasus malaria impor berkembang menjadi penularan lokal.
Karena itu, sabarataan fasilitas pelayanan kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan wan memastikan setiap pasien yang memiliki riwayat perjalanan matan daerah endemis dapat diperiksa secara tepat.
Apabila ditemukan kasus, fasilitas kesehatan harus segera melakukan pemeriksaan laboratorium, memberikan pengobatan sesuai standar, serta mempercepat proses pelaporan.
Penyelidikan epidemiologi juga menjadi bagian penting dalam penanganan setiap kasus gasan memastikan sumber penularan wan mencegah kemungkinan terjadinya penyebaran lebih lanjut.
Langkah tersebut diperlukan supaya kasus yang masuk matan luar daerah dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi penularan di tengah masyarakat.
Selain memperkuat sistem surveilans, Dinas Kesehatan Banjarmasin juga memberikan perhatian khusus terhadap kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terpapar malaria.
Pemetaan dilakukan terhadap kelompok pekerja yang memiliki mobilitas tinggi atau sering melakukan aktivitas di wilayah yang masih tergolong endemis malaria.
Data hasil pemetaan nantinya akan digunakan sebagai dasar dalam menyusun langkah promotif wan preventif yang lebih tepat sasaran.
Kegiatan skrining, edukasi, serta peningkatan kewaspadaan dapat dilakukan sesuai kondisi dan karakteristik kelompok berisiko di masing-masing wilayah kerja puskesmas.
Melalui koordinasi yang melibatkan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan tersebut, Dinkes Banjarmasin berharap sistem kewaspadaan terhadap malaria dapat berjalan secara terintegrasi.
Kolaborasi antara puskesmas, rumah sakit, Balai Kekarantinaan Kesehatan, laboratorium, serta pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam mempertahankan status eliminasi malaria.
Dinkes Banjarmasin juga mengingatkan bahwa keberhasilan eliminasi bukan berarti ancaman malaria telah sepenuhnya hilang.
Dengan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, potensi masuknya kasus matan wilayah endemis tetap harus diantisipasi.
Karena itu, setiap kasus yang ditemukan harus segera ditindaklanjuti melalui pemeriksaan, pengobatan, pelaporan, wan penyelidikan epidemiologi secara cepat dan tepat.
Melalui penguatan surveilans wan koordinasi lintas fasilitas kesehatan, Banjarmasin berupaya menjaga supaya kada terjadi penularan malaria secara lokal. (EPW/JCI).












