DPRD Banjarmasin Minta UMKM wan Warga Miskin Jangan Jadi Korban Kenaikan Pajak

DPRD Banjarmasin Minta UMKM wan Warga Miskin Jangan Jadi Korban Kenaikan Pajak

Banjarmasin, Jukung.co.id – Pembahasan perubahan aturan pajak wan retribusi daerah di Banjarmasin kada hanya difokuskan pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi jua diarahkan gasan memberikan perlindungan kepada kelompok masyarakat rentan wan pelaku usaha kecil.

Hal itu disampaikan Anggota Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 15 Tahun 2023 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Hendra, usai mengikuti rapat pembahasan bersama sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) penghasil PAD di Ruang Rapat Komisi II DPRD Kota Banjarmasin, jelang tengah hari Senin (25/05/2026).

Menurut Hendra, DPRD mengusulkan adanya klausul khusus dalam raperda tersebut yang memberikan perhatian terhadap masyarakat miskin, pelaku UMKM, ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga, serta kelompok penggerak ekonomi lainnya agar kada terbebani oleh kebijakan pajak wan retribusi yang berlebihan.

Ia menegaskan, semangat penyusunan raperda kada semata-mata mengejar peningkatan pendapatan daerah, tetapi juga memastikan hadirnya rasa keadilan gasan warga yang masih berjuang mengembangkan usaha maupun memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kami ingin ada perlindungan gasan warga rentan, termasuk pelaku UMKM wan buhan penggerak ekonomi di Banjarmasin. Jangan sampai kebijakan pajak wan retribusi justru menjadi beban yang menghambat mereka berkembang,” ujarnya.

Politisi PKS tersebut menjelaskan pajak wan retribusi daerah tetap diperlukan sebagai sumber pendapatan pemerintah daerah. Namun, penerapannya harus mempertimbangkan kemampuan warga wan kondisi usaha yang sedang bertumbuh.

Menurutnya, pelaku usaha yang baru merintis bisnis, termasuk usaha kuliner wan kafe yang baru beroperasi, seharusnya diberikan ruang gasan berkembang sebelum dikenakan kewajiban pajak wan retribusi secara penuh.

“Jangan sampai usaha yang baru tumbuh langsung dibebani pajak wan retribusi. Mereka perlu diberikan kesempatan berkembang terlebih dahulu sampai bujur-bujur memperoleh keuntungan,” jelasnya.

Hendra menilai pemerintah daerah perlu menyiapkan skema atau tahapan yang lebih bijaksana dalam penerapan pajak terhadap usaha baru. Dengan demikian, pelaku usaha tetap memiliki kesempatan memperkuat modal wan mengembangkan bisnisnya tanpa tekanan yang terlalu besar pada tahap awal.

Ia juga menekankan pentingnya stimulus gasan UMKM sebagai salah satu sektor yang berkontribusi terhadap pergerakan ekonomi daerah wan penciptaan lapangan kerja.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan ekonomi kada hanya diukur dari besarnya PAD yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga keberlangsungan usaha masyarakat kecil.

Dalam pembahasan awal raperda tersebut, Hendra mengaku telah menyampaikan usulan mengenai perlindungan gasan kelompok rentan agar menjadi perhatian dalam penyusunan regulasi yang baru.

Meski demikian, ia menjelaskan pembahasan wayahini masih berada pada tahap awal atau brainstorming wan balum memasuki pembahasan pasal demi pasal.

Karena itu, DPRD masih memiliki ruang gasan mengusulkan berbagai penyempurnaan substansi sebelum raperda tersebut dibahas lebih lanjut.

“Kami akan terus mendorong agar klausul perlindungan gasan masyarakat rentan wan pelaku UMKM bisa masuk dalam raperda. Harapannya, regulasi yang lahir nantinya kada hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi jua memberikan rasa keadilan gasan warga,” tegasnya. (HNG/JCI).

Link video

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *