Banjarmasin, Jukung.co.id – Kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe atau yang dikenal sebagai kawasan Kota Lama Banjarmasin kini menunjukkan tanda-tanda penurunan aktivitas. Deretan kedai wan wadah usaha yang sebelumnya rami pengunjung, wayahini sebagian mulai tutup, bahkan terlihat dipasang spanduk dijual maupun disewakan.
Kondisi ini menjadi kontras dengan situasi beberapa waktu lalu, ketika kawasan tersebut sempat berkembang menjadi salah satu destinasi favorit warga, khususnya kalangan anak muda.
Beragam kedai kopi, tempat makan, hingga ruang berkumpul pernah menjadikan kawasan ini hidup hingga malam hari. Namun, seiring waktu, geliat tersebut perlahan meredup.
Sejumlah pelaku usaha menilai, salah satu faktor utama yang mempengaruhi kondisi ini adalah ketatnya persaingan usaha, terutama dengan munculnya pusat-pusat nongkrong baru di Banjarmasin.
Salah satu kawasan yang kini berkembang pesat adalah kawasan Jalan Hasanuddin H.M, yang menjadi magnet baru gasan anak muda dengan beragam pilihan kafe wan wadah hiburan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga wan Pariwisata Banjarmasin, Ibnu Sabil, mengakui dinamika tersebut kada bisa dihindari dalam perkembangan sektor pariwisata wan ekonomi kreatif.
“Persaingan usaha wayah ini memang sangat ketat. Banyak kafe wan wadah baru bermunculan, sehingga berpengaruh terhadap aktivitas di kawasan kota lama,” ujarnya, baisukan Kamis (26/03/2026).
Menurutnya, kondisi ini harus menjadi momentum gasan pelaku usaha untuk melakukan pembenahan, terutama dalam hal inovasi konsep wan daya tarik pengunjung.
Ia menekankan tanpa adanya pembaruan, kawasan tersebut berpotensi semakin ditinggalkan.
“Pelaku usaha harus mampu beradaptasi. Jangan stagnan. Kalau kadada inovasi, tentu pengunjung akan mencari alternatif lain,” tegasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Banjarmasin juga tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menghidupkan kembali kawasan Kota Lama melalui kolaborasi lintas sektor.
Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah pembangunan fasilitas pendukung berupa shelter banyu oleh Dinas Perhubungan, gasan membuka akses transportasi berbasis sungai menuju kawasan tersebut.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi daya tarik baru, sekaligus menghidupkan kembali konsep wisata sungai yang menjadi identitas Banjarmasin.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kolaborasi lintas sektor untuk menghidupkan kembali kawasan ini, termasuk memanfaatkan potensi jalur sungai,” jelasnya.
Sebagai informasi, kawasan Kota Lama sebelumnya merupakan area yang relatif sepi wan didominasi bangunan lawas yang difungsikan sebagai gudang wan perkantoran.
Pada masa kepemimpinan Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, kawasan ini mulai ditata melalui pembangunan trotoar, drainase, serta penataan lingkungan dengan anggaran sekitar Rp7,8 miliar dari APBD.
Penataan tersebut sempat berhasil mengubah wajah kawasan menjadi destinasi wisata kota lama sekaligus pusat kuliner hanyar di Banjarmasin.
Namun, tantangan ke depan kada hanya pada penataan fisik, melainkan juga pada keberlanjutan konsep wan daya saing kawasan di tengah perubahan tren gaya hidup warga. (EPW/JCI).












