Banjarmasin, Jukung.co.id – Kebijakan Work From Anywhere (WFA) gasan Aparatur Sipil Negara (ASN) pada momen cuti bersama Idulfitri 1447 Hijriah resmi diberlakukan pemerintah pusat melalui Kementerian PAN-RB.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 yang bertujuan gasan mengurai kepadatan arus mudik wan arus balik Lebaran, sekaligus memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal selawas periode libur panjang.
Namun, Pemerintah Kota Banjarmasin menilai kebijakan tersebut kada memiliki urgensi signifikan gasan diterapkan di wilayahnya.
Kepala Bagian Organisasi Setda Banjarmasin, Eka Rahayu Normasari, menyampaikan implementasi teknis kebijakan WFA sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah daerah masing-masing.
Menurutnya, kebijakan WFA lebih relevan diterapkan di daerah dengan tingkat mobilitas tinggi wan jarak tempuh yang jauh, nangkaya di Pulau Jawa yang dikenal memiliki kepadatan arus lalu lintas yang tinggi wayah musim mudik.
“WFA itu untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan apabila jarak tempuh jauh, nangkaya teman-teman ASN di Pulau Jawa yang jalur lalu lintasnya luar biasa padat,” ujarnya, baisukan Rabu (25/03/2026).
Berdasarkan kondisi geografis wan tingkat kepadatan lalu lintas di Kalimantan Selatan, Pemko Banjarmasin menilai arus mudik relatif masih terkendali sehingga kebijakan WFA kada memberikan dampak signifikan terhadap kelancaran mobilitas ASN.
“Gasan di Banjarmasin kada terlalu berpengaruh signifikan. Kita akan tetap mengikuti penetapan hari libur resmi matan pemerintah,” jelasnya.
Sesuai ketentuan pemerintah pusat, jadwal libur nasional wan cuti bersama Idulfitri tahun ini berlangsung mulai 18 hingga 24 Maret 2026.
Di sisi lain, pemerintah pusat juga kada mengeluarkan larangan gasan ASN untuk mengambil cuti tambahan di luar jadwal cuti bersama, berbeda dengan kebijakan yang diberlakukan wayah masa pandemi COVID-19.
Meski demikian, ASN diingatkan agar kada menyalahgunakan kelonggaran tersebut sehingga kada mengganggu pelayanan publik kepada warga.
Eka Rahayu Normasari menegaskan kewenangan pemberian cuti sepenuhnya berada di tangan masing-masing Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Oleh karena itu, pimpinan instansi diminta bijak wan selektif dalam memberikan izin cuti.
“Jangan karena kada dilarang, lalu sabarataan mengambil cuti. Ini bisa berdampak pada pelayanan publik,” tegasnya.
Ia menambahkan cuti tambahan sebaiknya diberikan gasan keperluan yang benar-benar mendesak, nangkaya kondisi kesehatan, persalinan, atau keperluan keluarga yang kada dapat ditunda. (EPW/JCI).












