Banjarmasin, Jukung.co.id – Lampu lalu lintas di sebuah persimpangan Banjarmasin berubah habang. Kendaraan berhenti berderet, klakson sesekali terdengar. Di sela-sela antrean itu, seorang remaja bertubuh kurus melangkah pelan sambil menengadahkan tangan. Namanya Muhammad Riski, usianya baru 16 tahun. Seharusnya, di usia itu, Riski sibuk mengejar pelajaran di sekolah, bukan mengejar belas kasihan di jalanan.
Muhammad Riski terpaksa turun ke jalan demi membantu orang tuanya bertahan hidup. Ayahnya seorang pengamen, sementara ibunya tidak memiliki pekerjaan tetap. Penghasilan harian yang tidak menentu membuat keluarga kecil itu perlahan terdesak, hingga akhirnya Muhammad Riski harus mengorbankan pendidikannya.
“Kalau tidak turun ke jalan, kami tidak makan,” begitu kira-kira alasan sederhana yang tersirat dari pilihan berat yang harus dijalani remaja ini.
Muhammad Riski putus sekolah sejak duduk di kelas II SMP. Bukan karena malas belajar, melainkan karena keterbatasan biaya. Bahkan, ijazah SD miliknya sempat tertahan karena orang tuanya tidak mampu melunasi biaya administrasi. Pendidikan, bagi Muhammad Riski, menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Keluarga Muhammad Riski tinggal di sebuah rumah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak. Dinding kayu lapuk, lantai yang mulai rapuh, dan atap yang rawan bocor menjadi saksi kerasnya hidup yang dijalani keluarga ini. Kondisi itulah yang membuat Dinas Sosial (Dinsos) Banjarmasin turun ke lapangan.
Kepala Dinsos Banjarmasin, Nuryadi, mengaku prihatin saat pertama kali mengunjungi rumah Muhammad Riski. “Kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak bagian rumah yang sudah tidak layak huni,” ujarnya, kamarian Sulasa (13/01/2026).
Dari penelusuran Dinsos, keluarga Muhammad Riski sebelumnya tercatat sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, bantuan tersebut kini tidak lagi diterima, sehingga berdampak besar terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, termasuk pendidikan anak.
“Kondisi ekonomi keluarga inilah yang akhirnya memaksa Muhammad Riski berhenti sekolah dan ikut mencari nafkah,” jelasnya.
Menyadari masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, Dinsos Banjarmasin langsung mengambil langkah tindak lanjut. Pendataan ulang dilakukan agar keluarga Muhammad Riski kembali masuk dalam skema penerima bantuan sosial. Tidak hanya itu, Dinsos juga berkomitmen mendampingi proses pengambilan ijazah SD Muhammad Riski yang sempat tertahan.
“Kami ingin memastikan Muhammad Riski bisa kembali mengenyam pendidikan. Opsi yang kami siapkan antara lain Sekolah Rakyat atau pendidikan kesetaraan Paket A atau B,” tambahnya.
Bagi Muhammad Riski, harapan itu seperti secercah cahaya di tengah kerasnya kehidupan jalanan. Di balik wajah lelahnya, masih tersimpan keinginan sederhana: kembali bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Kasus Muhammad Riski bukan sekadar cerita tentang satu anak yang putus sekolah. Ia menjadi potret nyata bagaimana kemiskinan masih memaksa anak-anak kehilangan hak dasarnya. Pemerintah berharap, melalui pendampingan berkelanjutan dan intervensi sosial yang tepat, Muhammad Riski dan anak-anak lain yang bernasib serupa dapat kembali menemukan jalannya menuju bangku sekolah.
Di bawah lampu habang itulah, Muhammad Riski masih berdiri hari ini. Namun, dengan uluran tangan yang tepat, bukan tidak mungkin suatu hari ia akan menatap masa depan dari ruang kelas, bukan lagi dari tengah jalanan kota. (EPW/JCI).
