Berita  

Tertawa Sambil Mengkritik, Stand Up Comedy Bakul Fest Jadi Wadah Aspirasi Warga Banjarmasin

Tertawa Sambil Mengkritik, Stand Up Comedy Bakul Fest Jadi Wadah Aspirasi Warga Banjarmasin

Banjarmasin, Jukung.co.id – Aroma sate, jagung bakar, hingga wadai khas Banjar menyeruak di udara halaman Balai Kota Banjarmasin, malam Senin (07/09/2025). Ratusan warga berbondong-bondong datang ke kawasan Bamara Kuliner Festival (Bakul Fest), menikmati jajanan sekaligus menyaksikan hiburan di panggung utama.

Malam itu berbeda. Jika biasanya panggung diisi musik dan tarian, kali ini giliran para komika lokal mengambil alih. Dengan gaya santai, mereka membuka materi, memancing tawa penonton yang baru saja sibuk menyeruput es kelapa atau mengunyah sate ayam.

Gelak tawa pecah ketika seorang komika menyebut Wakil Wali Kota Hj. Ananda sebagai “Wakil Wali Kota Konten”. Penonton pun bersorak, sebagian mengangkat ponsel untuk merekam momen itu. “Kayak nonton YouTube live, tapi di depan mata,” celetuk seorang remaja.

Tidak hanya pejabat, proyek banyu mancurat  dan lampu hias di Jembatan Pasar Lama juga jadi bahan lawakan. Meski menelan biaya Rp11 miliar, fasilitas itu dinilai tidak maksimal berfungsi. “Lampunya ada, banyu mancuratnya ada, tapi jarang keduanya jalan bersamaan, “Kadang nyala, kadang kada. Lebih sering kada,” canda seorang komika, disambut tawa panjang sekaligus anggukan setuju dari penonton.Namun di balik canda itu, suasana tetap terasa cair. Para penonton tahu, komedi adalah cara berbeda untuk menyampaikan keresahan sehari-hari. “Lucu, tapi isinya memang kenyataan. Jadi hiburan sekaligus bikin mikir,” ujar Tama, mahasiswa yang datang bersama teman-temannya.

“Lucu banar, tapi isinya pas dengan keadaan. Jadi tertawa sambil mikir juga,” ujar Rina, penonton asal Banjarmasin Tengah. Sementara Fauzi, warga Sungai Andai, menilai humor segar itu justru mewakili suara rakyat. “Bagus ini, pemerintah jangan tersinggung. Soalnya komedi kayak gini sebenarnya suara kita juga,” ucapnya.

Menariknya, Wali Kota Muhammad Yamin yang turut hadir menanggapi dengan santai. Ia justru mengapresiasi kepekaan para komika. “Stand up comedy ini bisa menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi masyarakat. Kritik penting bagi kami untuk terus membangun Banjarmasin lebih maju dan sejahtera,” ujarnya usai acara.

Bagi warga yang hadir, momen itu terasa istimewa. Mereka tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga melihat bagaimana suara rakyat bisa sampai ke telinga pemimpin lewat cara yang ringan dan menghibur.

“Lucu banar, tapi isinya pas dengan keadaan. Jadi tertawa sambil mikir juga,” ujar Rina, salah satu penonton.
“Bagus ini, pemerintah jangan tersinggung, soalnya komedi kayak gini sebenarnya suara kita juga,” tambah Fauzi, warga lainnya yang ikut menonton.

Kehadiran para komika lokal di panggung Bakul Fest membuktikan, seni komedi lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa menjadi jembatan komunikasi, menyuarakan keresahan masyarakat, sekaligus menjaga kedekatan antara pemerintah dan warganya.

Di Kota Seribu Sungai, malam itu stand up comedy bukan hanya menebar tawa, melainkan juga mengajarkan bila kritik dapat disampaikan dengan cara yang elegan, lewat humor yang membuat orang tersenyum, sembari tetap merenung. (EPW/JCI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *