Budaya  

Mini Konser Lagu Banjar “Dari Masa ke Masa”: Hadzir Satukan Musisi Banua Lintas Generasi

Mini Konser Lagu Banjar “Dari Masa ke Masa”: Hadzir Satukan Musisi Banua Lintas Generasi

Banjarmasin, Jukung.co.id – Suara panting berpadu dengan alunan vokal khas Banjar menggema di kawasan wisata Kampung Ketupat, Kelurahan Sungai Baru, Banjarmasin Tengah, malam Ahad (23/08/2025). Mini Konser Lagu Banjar dari Masa ke Masa Spesial Hadzir menghadirkan suasana penuh nostalgia sekaligus semangat kebaruan.

Penyanyi lawas Emelia Agus membuka memori dengan lagu-lagu lawas, sementara penyanyi muda seperti Tommy Keganangan membawa energi segar di atas panggung. Beberapa tembang populer Banjar seperti Uma Abah hingga Kasih Putus Diluhuk Badangsanak sukses menghipnotis penonton yang larut dalam kehangatan tradisi.

Acara ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat, tetapi juga dihadiri tokoh penting. Walikota Banjarmasin Muhammad Yamin beserta istri serta mantan Walikota Banjarmasin Ibnu Sina (2016–2024) bersama istri ikut menyaksikan penampilan musisi Banua. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap upaya pelestarian seni budaya lokal.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan, Galuh Tantri Narindra, melalui Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Suharyanti, S.Sn menyampaikan apresiasinya.

“Mini konser yang dibawakan Hadzir sangat patut diapresiasi. Meski sederhana, kebersamaan yang terbangun antar-musisi membuatnya menjadi luar biasa,” ucapnya.

Konser ini terselenggara berkat dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII Kalteng–sel serta sejumlah pihak lainnya. Dukungan itu disebut sebagai bukti keseriusan pemerintah dan lembaga kebudayaan dalam menjaga serta mengembangkan seni tradisi Banjar.

Suharyanti menambahkan, aransemen musik pengiring yang dibawakan musisi Banua menampilkan ciri khas Kalimantan Selatan dengan sentuhan modern.

“Kolaborasi petikan panting dengan gaya kekinian membuat lagu-lagu Banjar terasa lebih nyaman dinikmati. Kreativitas musisi muda kita membuktikan bila seni tradisi Banjar mampu terangkat dengan aransemen-aransemen baru tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

Mini konser ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia menjelma ruang kebersamaan, perayaan identitas Banua, sekaligus pembuktian jika lagu Banjar terus hidup, menyatu dengan zaman, dan mampu menyatukan generasi. (HNG/JCI).

Exit mobile version