Banjarmasin, Jukung.co.id – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Banjarmasin mulai menyusun arah kebijakan organisasi gasan satahun ke depan melalui Konferensi Kerja Kota I nang digelar di Fave Hotel, Jalan Ahmad Yani Paal 2, Banjarmasin Tengah, baisukan Senin (06/07/2026).
Kegiatan yang diikuti pengurus wan anggota PGRI matan berbagai tingkatan tersebut memasuki agenda penting berupa Sidang Pleno III, yang membahas penyempurnaan sekaligus penetapan Program Kerja PGRI Banjarmasin Tahun 2026.
Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin, Ryan Utama, mengatakan Sidang Pleno III menjadi forum strategis karena seluruh program organisasi dibahas secara terbuka, dievaluasi, wan disempurnakan sebelum ditetapkan sebagai pedoman pelaksanaan selawas satahun mendatang.
Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan setiap program bujur-bujur menjawab kebutuhan organisasi sekaligus selaras dengan arah pembangunan pendidikan di Banjarmasin.
“Forum ini memastikan setiap program telah melalui proses evaluasi, memperoleh berbagai masukan matan peserta, serta disusun selaras dengan kebijakan organisasi sehingga dapat menjadi pedoman kerja PGRI selawas tahun 2026,” ujarnya.
Ryan Utam berharap hasil konferensi kerja mampu memperkuat peran PGRI sebagai organisasi profesi yang kada hanya memperjuangkan kepentingan anggotanya, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Banjarmasin.
Sementara itu, Ketua PGRI Banjarmasin, ST. Sarah, menjelaskan Sidang Pleno III merupakan tahapan penting dalam rangkaian konferensi kerja karena menjadi ruang gasan sabarataan peserta untuk memberikan pandangan, kritik, saran, maupun usulan terhadap rancangan program kerja yang telah disusun sebelumnya.
“Setelah laporan pertanggungjawaban wan evaluasi dibahas pada pleno sebelumnya, wayahini sabarataan peserta diberikan kesempatan menyampaikan berbagai masukan agar program kerja yang ditetapkan bujur-bujur sesuai dengan kebutuhan organisasi wan anggota,” ucapnya.
Menurut Sarah, konferensi kerja juga menjadi wadah gasan menyerap berbagai persoalan yang dihadapi guru di lapangan. Sabarataan aspirasi yang disampaikan pengurus cabang, ranting, maupun peserta akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan organisasi.
“Kami ingin setiap keputusan lahir matan aspirasi buhan guru. Dengan begitu program yang dijalankan bujur-bujur partisipatif, demokratis, wan mampu memberikan manfaat gasan anggota,” jelasnya.
Selain membahas program kerja organisasi, konferensi kerja kali ini juga memberikan perhatian khusus terhadap persoalan kesejahteraan guru honorer di Banjarmasin. Isu tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan sebagai bentuk komitmen PGRI dalam memperjuangkan hak, perlindungan, wan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.
Melalui konferensi kerja ini, PGRI Banjarmasin berharap mampu melahirkan program-program yang adaptif terhadap perkembangan dunia pendidikan sekaligus memperkuat sinergi antara organisasi, pemerintah, wan sabarataan pemangku kepentingan dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas di Banjarmasin. (EPW/JCI).












