Banjarmasin, Jukung.co.id – Pemerintah Kota Banjarmasin mengambil langkah tegas dalam memperkuat pengelolaan ratik berbasis sumber dengan mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi nasabah bank ratik wan menyetorkan sedikitnya lima kilogram ratik anorganik saban bulan.
Kebijakan ini kada sekadar imbauan, melainkan telah menjadi bagian matan persyaratan administrasi pencairan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP). ASN yang kada dapat menunjukkan bukti setoran ratik sesuai ketentuan berpotensi mengalami penundaan pencairan TPP hingga kewajiban tersebut dipenuhi.
Langkah tersebut merupakan bentuk keseriusan Pemerintah Kota Banjarmasin dalam menanamkan budaya disiplin lingkungan sekaligus mendorong pengurangan volume ratik secara konkret matan tingkat rumah tangga.
Koordinator Bank Ratik pada Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan wan Aset Daerah (BPKPAD)Banjarmasin, Vera Wahyuliana, menjelaskan program tersebut sebenarnya telah berjalan cukup lawas.
Namun, seiring evaluasi pelaksanaan program, pemerintah memutuskan menaikkan target setoran ratik matan sebelumnya minimal dua kilogram menjadi lima kilogram per ASN saban bulannya.
Menurut Vera Wahyuliana, peningkatan target itu dilakukan agar kontribusi ASN terhadap pengurangan ratik di Banjarmasin semakin terasa nyata.
“Program ini sudah berjalan wan menjadi bagian matan persyaratan pencairan TPP. Wayahini target setoran ditingkatkan agar partisipasi ASN dalam mendukung pengurangan ratik bisa lebih optimal,” ujarnya, jelang tengah hari Jumat (29/05/2026).
Ia menegaskan, sabarataan ASN wajib terdaftar sebagai nasabah bank ratik resmi wan memiliki bukti transaksi penyetoran.
Bukti tersebut dapat berupa buku tabungan bank ratik atau surat keterangan resmi matan pengelola bank ratik nang nantinya dilampirkan wayah pengajuan pencairan TPP.
Sabarataan data setoran ASN selanjutnya direkap wan diverifikasi sebelum dilaporkan kepada Dinas Lingkungan Hidup Banjarmasin.
“Kalau bukti setoran kadada, maka proses pencairan TPP bisa ditunda sampai persyaratan dipenuhi. Jadi ini wajib,” tegasnya.
Ratik nang disetorkan merupakan hasil pemilahan matan rumah masing-masing ASN sebelum dibawa ke Bank Ratik Bahemart.
Jenis ratik nang diterima adalah ratik anorganik bernilai ekonomis, nangkaya botol plastik, kardus, kertas bekas, kaleng, hingga minyak jelantah.
Kebijakan ini diharapkan kada hanya menjadi rutinitas administratif, tetapi mampu membentuk kebiasaan baru di lingkungan ASN untuk lebih peduli terhadap pengelolaan ratik mulai matan rumah.
Selain kewajiban menyetorkan ratik anorganik, buhan ASN juga diminta mendukung pengelolaan ratik organik melalui pemanfaatan sisa rumah tangga menjadi kompos.
Program tersebut sejalan dengan surat edaran pemerintah daerah terkait penguatan pengelolaan ratik berbasis rumah tangga wan perkantoran.
Pemko Banjarmasin menilai ASN harus berada di garda depan dalam memberi contoh kepada warga terkait perilaku memilah ratik.
Dengan jumlah ASN nang besar, pemerintah optimistis kebijakan ini dapat memberi dampak signifikan dalam menekan timbulan ratik harian nang selawas ini menjadi persoalan serius di Banjarmasin.
Lebih dari sekedar syarat pencairan TPP, aturan ini menjadi simbol komitmen pemerintah dalam mengubah pola pikir warga terhadap ratik.
Ratik yang sebelumnya dianggap kada bernilai, wayahini didorong menjadi bagian dari ekonomi sirkular melalui sistem bank ratik.
Melalui kebijakan tersebut, Pemerintah Kota Banjarmasin berharap ASN kada hanya menjadi pelaksana aturan, tetapi juga motor penggerak perubahan budaya lingkungan di tengah warga.
Langkah ini sekaligus menegaskan bila penyelesaian persoalan ratik harus dimulai matan kedisiplinan individu, dimulai matan rumah, lalu menjadi gerakan kolektif demi mewujudkan Banjarmasin yang lebih barasih, sehat, wan berkelanjutan. (EPW/JCI).












