Bali, Jukung.co.id – Pemerintah Kota Banjarmasin terus mencari terobosan untuk menangani persoalan ratik yang kian kompleks, khususnya ratik plastik yang volumenya terus meningkat. Salah satu langkah konkret yang kini ditempuh adalah mempelajari teknologi pirolisis, sebuah metode pengolahan ratik plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) sebagai energi alternatif.
Upaya tersebut dilakukan dengan meninjau langsung fasilitas pengolahan ratik plastik milik Get Foundation yang berlokasi di Jalan Raya Gering, Desa Siabang Kaja, Bali, baisukan Sabtu (07/02/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari kajian awal Pemko Banjarmasin sebelum memutuskan penerapan teknologi serupa di daerah.
Teknologi pirolisis yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini sebelumnya telah diuji coba di sejumlah daerah, seperti Banjarnegara dan Semarang. Teknologi tersebut bekerja dengan sistem pembakaran tanpa oksigen (pirolisis) yang mampu mengonversi ratik plastik menjadi bahan bakar cair setara solar.
Dalam peninjauan tersebut, rombongan Pemko Banjarmasin bersama yayasan pengelola Get Plastic melihat secara langsung kinerja mesin pirolisis yang memiliki kapasitas pengolahan mulai dari 10 kilogram hingga 200 kilogram ratik plastik dalam waktu sekitar 3 hingga 5 jam.
Tidak hanya menghasilkan bahan bakar cair, proses pirolisis juga menghasilkan residu berupa black carbon. Menariknya, residu ini masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk bernilai guna, seperti asbak, plakat, kulit sintetis, briket, hingga paving block, sehingga minim limbah akhir.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, mengatakan teknologi pirolisis berpotensi menjadi salah satu solusi alternatif dalam mengurangi volume ratik plastik di Banjarmasin. Namun demikian, pihaknya menegaskan bila penerapan teknologi tersebut tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa.
“Teknologi ini tentu sangat menarik, tetapi tetap perlu dikaji secara mendalam. Jangan sampai kita terapkan sekarang, tetapi ternyata tidak tepat sasaran. Sayang jika dana yang cukup besar justru terbuang sia-sia. Oleh karena itu, pengembangannya harus benar-benar matang sebelum diterapkan di Banjarmasin,” ujarnya.
Menurutnya, kajian menyeluruh diperlukan, mulai dari aspek teknis, biaya operasional, keberlanjutan pengelolaan, hingga dampak lingkungan dan sosial, agar teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Banjarmasin.
Dengan adanya kajian terhadap teknologi pirolisis ini, Pemko Banjarmasin berharap dapat menemukan solusi inovatif untuk menekan dampak negatif ratik plastik terhadap lingkungan. Selain itu, pemanfaatan ratik menjadi energi alternatif juga dinilai sejalan dengan upaya mewujudkan kota yang lebih bersih, berkelanjutan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. (EPW/JCI).













