Banjarmasin, Jukung.co.id – Rerumputan tinggi kini menyelimuti jalan setapak yang dulunya ramai dilalui anak-anak bermain dan pengunjung yang datang dari berbagai penjuru kota. Saung-saung tempat bersantai tampak lapuk, catnya memudar, sebagian bahkan roboh dimakan usia. Begitulah wajah terkini Kampung Selanjung Sungai Biyuku, destinasi wisata di utara Banjarmasin yang kini nyaris terlupakan.

Dua tahun lalu, tempat ini dikenal sebagai salah satu lokasi wisata alternatif bagi warga Banjarmasin dan sekitarnya. Suasana kampung yang asri, budidaya biyuku yang unik, hingga kuliner khas seperti wadai lempeng selanjung menjadi daya tarik tersendiri. Tapi waktu seakan berhenti di tempat ini. Pandemi, minimnya perhatian, dan kurangnya pengelolaan membuatnya mati suri.
Namun harapan baru mulai muncul. Baisukan Jumat (05/09/2025), Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, datang ke lokasi. Ia berjalan menyusuri tepian sungai, menyimak satu per satu kondisi fasilitas yang kini memprihatinkan. Rasa prihatin terlihat jelas di wajahnya.
“Tempat ini punya potensi besar. Sayang kalau dibiarkan terus seperti ini. Kita akan hidupkan lagi, dengan penataan dan pembenahan,” tegasnya.
Muhammad Yamin tidak ingin kekayaan lokal seperti budidaya biyuku dan wadai lempeng hilang begitu saja. Ia meminta dinas terkait, camat, hingga lurah untuk segera bergerak cepat membenahi kawasan tersebut.

Semangat yang sama juga disampaikan Plt. Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, Fitriah. Ia menyatakan, pihaknya telah berdiskusi dengan warga setempat untuk menyusun rencana penataan.
“Kami tidak bisa kerja sendiri. Perlu dukungan dari Kelompok Sadar Wisata. Mereka yang nantinya akan menjaga dan menghidupkan kembali tempat ini,” ujarnya.
Satu tantangan besar adalah status lahan, yang sebagian besar masih milik warga. Tapi pemerintah kota sudah menyiapkan solusi berupa skema pinjam pakai, agar ke depan tidak ada kendala hukum dalam pengembangan kawasan ini.
Kampung Selanjung Sungai Biyuku bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah cermin dari identitas lokal yang pernah membanggakan. Jika semua rencana berjalan lancar, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat suara tawa anak-anak, aroma wadai lempeng, dan gemericik banyu sungai akan kembali menghidupkan kampung yang kini sepi. (EPW/JCI).












