Banjarmasin, Jukung.co.id – Di sebuah rumah sederhana di Jalan Yos Sudarso, Telaga Biru, RT 34, Banjarmasin Barat, kisah pilu tersimpan. Dua kakak beradik, Muhammad Ridho Setiawan (15) tahun dan Abhizar Raka Fadilah (8) tahun, hanya bisa terbaring lemah. Tubuh mereka lumpuh layu, tidak mampu bergerak bebas seperti anak-anak seusianya.
Sejak kecil, kondisi gizi yang buruk membatasi tumbuh kembang keduanya. Dunia mereka hanyalah ruang sempit tempat beristirahat, sementara suara tawa anak-anak lain yang bermain di luar rumah hanya bisa mereka dengar dari kejauhan.
Kondisi memprihatinkan ini mengetuk hati Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin. Pada baisukan Selasa (02/09/2025), ia datang meninjau kediaman keluarga tersebut. MuhammadYamin tampak haru melihat Ridho dan Abhizar. “Pemerintah Kota Banjarmasin harus hadir untuk membantu mereka, baik dari segi kesehatan maupun pemenuhan gizi. Anak-anak ini berhak tumbuh sehat seperti anak lainnya,” ucapnya.
Harapan besar juga disampaikan Muhammad Yamin kepada masyarakat agar ikut bergerak bersama membantu. “Hari ini kita diingatkan bila masih ada anak-anak yang berjuang untuk hak mereka atas kesehatan. Dukungan semua pihak sangat penting,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, dr. Tabiun Huda, menyatakan pihaknya segera menindaklanjuti kasus ini. Kedua anak akan mendapatkan perawatan di RSUD Sultan Suriansyah, bila perlu akan dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap. “Kami akan memastikan mereka ditangani dengan baik,” ujarnya.
Muhammad Ridho Setiawan dan Abhizar Raka Fadilah kini tinggal bersama kakak mereka. Mamanya berada di luar daerah, sementara abah mereka baru saja kembali dari perantauan.
Pemerintah Kota melalui Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan berjanji memberikan pendampingan intensif, termasuk pengobatan, pemenuhan kebutuhan gizi, serta dukungan sosial bagi keluarga.
Kisah Muhammad Ridho Setiawan dan Abhizar Raka Fadilah menjadi pengingat bila di balik wajah kota yang terus berkembang, masih ada warga yang berjuang keras menghadapi keterbatasan. Mereka menanti uluran tangan, doa, dan kepedulian agar bisa menikmati hak yang sama, tumbuh sehat, bersekolah, dan bermain seperti anak-anak lain seusia mereka. (EPW/JCI).












